Male Friendship Recession: Mengapa Laki-Laki Semakin Kesulitan Membangun Persahabatan yang Intim?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Pernah dengar istilah mankeeping? Di media luar, fenomena ini lagi ramai dibahas untuk menggambarkan kerja emosional berlebihan yang diemban perempuan terhadap pasangan heteroseksual mereka. 

Kalau di Indonesia sendiri, kita mungkin lebih akrab dengan istilah mothering—sebuah kondisi di mana perempuan tanpa sadar memposisikan diri sebagai pengasuh, pengatur hidup, sekaligus tempat pembuangan beban emosional bagi pasangannya. Hubungan yang tadinya diniatkan berjalan setara justru bergeser wujud, menyerupai relasi ibu dan anak, di mana salah satu pihak harus menanggung seluruh kelelahan mental seorang diri.

Nah kenapa ini bisa terjadi?Salah satu fenomena yang dapat membantu menjelaskannya adalah male friendship recession, yaitu menyusutnya lingkaran pertemanan dekat laki-laki dan berkurangnya kedekatan emosional dalam persahabatan mereka. Ketika laki-laki tidak memiliki jaringan dukungan sosial yang memadai, pasangan romantis berisiko menjadi satu-satunya tempat untuk mencari dukungan emosional. Akibatnya, perempuan dapat menanggung pekerjaan emosional yang tidak seimbang dalam hubungan.

Survei Mencatat Male Friendship Recession

Berdasarkan survei yang dilakukan Survey Center on American Life di Amerika Serikat. Dalam laporan American Men Suffer a Friendship Recession yang diterbitkan American Enterprise Institute, ditemukan perubahan signifikan dalam pola pertemanan masyarakat Amerika selama tiga dekade.

Pada 1990, sebanyak 55 persen laki-laki melaporkan memiliki setidaknya enam teman dekat. Angka tersebut turun menjadi 27 persen dalam survei yang dibahas dalam laporan itu. Sebaliknya, proporsi laki-laki yang mengaku tidak memiliki teman dekat meningkat dari 3 persen menjadi 15 persen.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa laki-laki lajang yang tidak sedang menjalin hubungan romantis menghadapi persoalan yang lebih besar: sekitar satu dari lima responden dalam kelompok ini mengaku tidak memiliki teman dekat.

Persoalannya bukan semata-mata jumlah teman. Kedekatan emosional juga berperan penting dalam membangun hubungan sosial yang mendukung kesejahteraan seseorang. Memiliki kenalan untuk bermain gim, menonton pertandingan olahraga, atau berkumpul di akhir pekan tidak selalu berarti memiliki seseorang yang dapat diajak membicarakan ketakutan, kegagalan, dan persoalan pribadi.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih sering mendapatkan dukungan emosional dari teman-temannya dibandingkan laki-laki. Padahal, dukungan semacam ini berkaitan dengan tingkat kesepian dan keterasingan yang lebih rendah.

Perlu dicatat bahwa data tersebut menggambarkan kondisi di Amerika Serikat, bukan Indonesia. Meski demikian, temuan ini perlu dibahas lebih luas terkait bagaimana norma gender memengaruhi kemampuan laki-laki membangun persahabatan yang intim secara emosional?

Baca juga: Relationship Weight: Alasan Kenapa Jatuh Cinta Bikin Badan Makin Berisi

Tuntutan untuk Selalu Kuat

Sejak kecil, banyak laki-laki disosialisasikan untuk memenuhi standar maskulinitas tertentu. Mereka diharapkan mandiri, tangguh, mampu menyelesaikan masalah sendiri, dan tidak mudah menunjukkan kelemahan. Menangis, mengungkapkan ketakutan, atau meminta pertolongan bahkan dapat dianggap bertentangan dengan citra laki-laki yang kuat.

Norma tersebut tidak selalu muncul melalui larangan langsung. Komentar seperti “masa begitu saja nggak kuat”, “laki-laki kok menangis”, atau “selesaikan sendiri masalahmu” dapat mengajarkan bahwa menunjukkan kerentanan merupakan sesuatu yang memalukan.

Dalam jangka panjang, sebagian laki-laki mungkin terbiasa menyimpan persoalan pribadi dan membatasi percakapan dengan teman pada aktivitas sehari-hari. Mereka tetap dapat memiliki kehidupan sosial yang aktif, tetapi belum tentu memiliki ruang yang aman untuk membicarakan perasaan.

Ketika kesedihan, kecemasan, atau ketidakpastian muncul, mereka mungkin tidak tahu kepada siapa harus bercerita. Bukan karena tidak membutuhkan dukungan, melainkan karena tidak terbiasa membangun hubungan yang memungkinkan kebutuhan tersebut diungkapkan.

Meski demikian, maskulinitas bukan satu-satunya penjelasan. Persahabatan juga dipengaruhi oleh perubahan pola hidup, mobilitas geografis, tuntutan pekerjaan, dan berkurangnya keterlibatan dalam komunitas sosial. Karena itu, male friendship recession perlu dipahami sebagai fenomena yang memiliki berbagai faktor penyebab, bukan semata-mata akibat ketidakmampuan laki-laki mengekspresikan emosi.

Ketika Pasangan Menjadi Satu-Satunya Tempat Bersandar

Dalam hubungan romantis yang sehat, pasangan memang semestinya dapat menjadi tempat berbagi perasaan dan mencari dukungan. Mendengarkan keluh kesah, menemani ketika menghadapi kesulitan, dan memberikan penghiburan merupakan bagian wajar dari hubungan yang penuh perhatian.

Persoalan muncul ketika seluruh kebutuhan emosional dan sosial salah satu pihak bergantung pada pasangannya, sementara tanggung jawab tersebut tidak dibagi secara seimbang.

Di sinilah konsep mankeeping menjadi relevan. Dalam artikel ilmiah Theorizing Mankeeping: The Male Friendship Recession and Women’s Associated Labor as a Structural Component of Gender Inequality (2024), Angelica P. Ferrara dan Dylan P. Vergara menjelaskan bagaimana perempuan dapat mengambil alih pekerjaan untuk menutupi kekurangan jaringan dukungan sosial laki-laki dalam kehidupan mereka.

Pekerjaan tersebut tidak terbatas pada mendengarkan cerita pasangan. Perempuan mungkin harus mendorong pasangannya agar menghubungi teman, mengatur pertemuan sosial, mengingat hari ulang tahun teman-temannya, atau mengingatkan mereka untuk menjaga hubungan dengan orang lain. Dalam beberapa kasus, perempuan juga menjadi satu-satunya orang yang diandalkan pasangan untuk menghadapi hampir semua persoalan emosional.

Ketika hal ini berlangsung terus-menerus tanpa timbal balik, perempuan menjadi pekerja emosional untuk menjaga kesejahteraan pasangan, sering kali dengan mengorbankan waktu serta energi mereka sendiri.

Kondisi ini dapat menciptakan ketimpangan dalam hubungan. Perempuan diharapkan memahami perasaan pasangan, mengelola konflik, dan menyediakan dukungan, tetapi belum tentu memperoleh perhatian serupa ketika mereka sendiri membutuhkan pertolongan.

Baca juga: Ketika Parasocial Relationship Jadi Pedang Bermata Dua

Cinta Bukan Berarti Menjadi Pengasuh Pasangan

Penting untuk membedakan dukungan emosional yang timbal balik dari ketergantungan emosional yang membebani satu pihak. Membantu pasangan melewati masa sulit bukanlah masalah. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang terus-menerus dituntut mengelola kehidupan emosional pasangannya, sementara pasangannya tidak berusaha mengembangkan kemampuan tersebut secara mandiri.

Perempuan tidak seharusnya menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab memastikan pasangan mereka memiliki kehidupan sosial yang sehat. Sebaliknya, laki-laki juga perlu memiliki ruang pertemanan, membangun kemampuan berkomunikasi secara terbuka, dan belajar mencari dukungan dari berbagai sumber.

Mengatasi male friendship recession bukan berarti menyalahkan laki-laki karena merasa kesepian. Kesepian merupakan pengalaman manusia yang dapat dialami siapa saja. Yang perlu dikritisi adalah norma sosial yang membuat sebagian laki-laki kesulitan membangun kedekatan emosional, sekaligus menormalisasi anggapan bahwa perempuan harus selalu siap menanggung kebutuhan emosional orang lain.

Persahabatan yang sehat memberi laki-laki kesempatan untuk memperoleh dukungan di luar hubungan romantis. Pada saat yang sama, persahabatan tersebut dapat membantu mengurangi ketergantungan berlebihan pada pasangan dan menciptakan hubungan romantis yang lebih seimbang.

Pada akhirnya, laki-laki membutuhkan lebih dari sekadar pasangan romantis untuk menjalani kehidupan yang sehat secara emosional. Mereka membutuhkan persahabatan yang memungkinkan mereka berbicara tanpa takut dianggap lemah, mengakui kesulitan tanpa merasa kehilangan harga diri, dan saling mendukung tanpa harus menyerahkan seluruh tanggung jawab emosional kepada perempuan.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Matrilineal Minangkabau dalam Seni dan Realita

Matrilineal Minangkabau dalam Seni dan Realita

Gen Z Bukan Pembaca, Tapi Partisipan: Tantangan Baru bagi Media Lokal

Hoaks: Video Kontroversi Mekah Dipenuhi Atribut dan Pesta LGBTQ+

Leave a Comment