Bincangperempuan.com-Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan oleh kasus pembacokan menggunakan kapak di sebuah kampus di Riau. Alih-alih memicu refleksi serius tentang kekerasan, peristiwa itu justru melahirkan berbagai candaan dan meme di media sosial. Kalimat seperti, “adek mau nggak sama abang?” lalu dibalas “kapak mau?” beredar luas. Ada pula meme yang mengaitkannya dengan kasus lama sepuluh tahun lalu: 2016 digambarkan dengan cangkul (kasus EN), sementara 2026 dengan kapak.
Bagi sebagian orang, meme semacam ini dianggap sekadar humor gelap—lucu-lucuan yang tidak perlu dianggap serius. Padahal jika dicermati, candaan tersebut memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dipakai sebagai bahan hiburan. Penolakan perempuan terhadap laki-laki diubah menjadi bahan lelucon yang seolah-olah wajar berujung pada ancaman kekerasan.
Candaan Seksis Bisa Membuat Orang Lebih Toleran pada Kekerasan
Sebuah studi dari University of Granada yang terbit pada 2009 menemukan bahwa humor yang merendahkan perempuan dapat memperkuat mekanisme mental yang berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan, terutama pada laki-laki yang memiliki sikap maskulin tradisional.
Dalam penelitian tersebut, 109 mahasiswa laki-laki berusia 18 hingga 26 tahun diminta mengisi beberapa kuesioner tentang sikap mereka terhadap perempuan. Setelah itu, mereka diperlihatkan dua jenis lelucon: satu kelompok mendengar lelucon seksis yang merendahkan perempuan, sementara kelompok lain mendengar lelucon biasa yang tidak berkaitan dengan gender.
Tahap berikutnya, para peserta diperlihatkan berbagai skenario kekerasan terhadap perempuan—mulai dari tindakan ringan hingga serangan serius. Mereka kemudian diminta menjelaskan bagaimana mereka akan bereaksi jika berada dalam situasi tersebut.
Hasilnya pun mengkhawatirkan. Peserta yang sebelumnya mendengar lelucon seksis menunjukkan tingkat toleransi yang lebih tinggi terhadap kekerasan terhadap perempuan dibandingkan mereka yang tidak mendengarnya. Temuan ini menunjukkan bahwa humor seksis dapat memperkuat pola pikir yang membuat kekerasan terhadap perempuan dapat diterima.
Meski begitu, para peneliti juga mencatat bahwa sebagian peserta yang terpapar lelucon seksis memang sudah memiliki kecenderungan sikap seksis sebelumnya. Beberapa pernyataan yang digunakan untuk mengukur sikap tersebut antara lain: anggapan bahwa perempuan feminis sebenarnya ingin lebih berkuasa daripada laki-laki, atau keyakinan bahwa banyak perempuan sengaja menggoda laki-laki lalu menolak mereka untuk mempermalukan.
Baca juga: Pembacokan di Kampus Riau, Ketika Kekerasan Dialihkan Ke Isu Moral
“Ah Cuma Bercanda, Serius Amat”
Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal Fiscaeconomica di Turki menyoroti bagaimana humor di media sosial sering kali berfungsi sebagai alat ideologis yang mereproduksi ketimpangan gender. Penelitian tersebut menganalisis 30 video dan 450 komentar pengguna dari tiga akun Instagram yang masing-masing memiliki lebih dari 100.000 pengikut.
Hasilnya menunjukkan lima pola utama. Pertama, humor sering dipakai untuk menormalisasi kekerasan fisik terhadap perempuan. Kedua, stereotip terhadap perempuan terus direproduksi secara sistematis. Ketiga, muncul narasi tentang “krisis maskulinitas” yang menggambarkan laki-laki sebagai korban. Keempat, institusi pernikahan digambarkan secara timpang, seolah-olah perempuan selalu menjadi pihak yang menuntut atau mengendalikan. Kelima, kekerasan digital dilegitimasi dengan alasan “cuma bercanda”.
Hasilnya sekitar 70 persen video yang dianalisis mengandung unsur kekerasan fisik terhadap perempuan, dan 67 persen komentar pengguna justru mendukung atau menertawakan kekerasan tersebut.
Para peneliti menemukan setidaknya empat mekanisme bagaimana humor dapat melegitimasi kekerasan: membuat masalah tampak tidak penting, menormalisasi stereotip gender, membangun budaya kekerasan sebagai sesuatu yang biasa, serta menyingkirkan suara kritik. Ketika ada yang protes memprotes, respons yang muncul pun “santai saja, itu cuma bercanda.”
Bahaya Keyakinan “Itu Hanya Lelucon”
Fenomena ini berkaitan dengan konsep psikologis yang disebut cavalier humor beliefs—keyakinan bahwa lelucon pada dasarnya tidak berbahaya dan tidak perlu dianggap serius.
Penelitian psikologi sosial menemukan bahwa orang yang memiliki keyakinan ini cenderung menganggap candaan seksis lebih lucu dan kurang menyinggung, bahkan ketika lelucon tersebut jelas merendahkan perempuan. Dalam eksperimen terhadap ratusan partisipan perempuan, mereka yang memiliki keyakinan bahwa humor “tidak berbahaya” cenderung lebih menerima lelucon seksis agresif dibandingkan mereka yang tidak memiliki keyakinan tersebut.
Yang lebih mengkhawatirkan, paparan terhadap lelucon seksis juga dapat membuat sebagian orang lebih menerima diskriminasi terhadap perempuan setelahnya. Itu artinya humor dapat menjadi pintu masuk bagi normalisasi prasangka.
Humor sebagai Alat Reproduksi Seksisme
Bahasa yang digunakan dalam humor juga memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang sosial. Sebuah analisis linguistik terhadap ratusan lelucon internet menunjukkan bahwa humor kerap digunakan untuk mereproduksi stereotip tentang perempuan dan merendahkan mereka.
Kajian tersebut menemukan bahwa kategori perempuan yang paling sering dijadikan bahan ejekan adalah “istri”. Dalam banyak lelucon, istri digambarkan sebagai sosok yang menyebalkan, cerewet, bodoh, atau menyulitkan kehidupan laki-laki.
Meski tampak sepele, pola ini memiliki dampak yang lebih luas. Dengan terus mengulang stereotip tersebut, humor membantu mempertahankan struktur sosial yang sudah bias terhadap perempuan. Bahkan, dalam beberapa kasus, lelucon tersebut tidak hanya menoleransi ketimpangan gender, tetapi juga mempromosikan kekerasan terhadap perempuan.
Para peneliti menekankan bahwa dalam masyarakat patriarkal di mana perempuan sejak awal sudah ditempatkan di posisi subordinat—candaan semacam ini tidak bisa begitu saja dianggap sebagai hiburan ringan.
Baca juga: Patriarki yang Diam-Diam Hidup dalam Pikiran Perempuan
Saatnya Berhenti Menertawakan Kekerasan
Meme tentang kapak mungkin terlihat seperti candaan spontan di internet. Padahal di balik tawa, ada pesan yang sedang diproduksi dan disebarkan: bahwa kekerasan terhadap perempuan bisa menjadi bahan humor. Karena apa yang terus kita tertawakan perlahan akan dianggap wajar.
Ketika ancaman kekerasan dijadikan bahan meme, batas antara lelucon dan legitimasi kekerasan menjadi kabur. Dan dalam konteks masyarakat yang masih menghadapi tingginya kekerasan terhadap perempuan, candaan seperti itu bukan lagi sesuatu yang bisa dianggap sepele.
Di tengah maraknya budaya meme dan jokes yang beredar luas di internet, sudah saatnya memilah dan melihat etika dalam membuat lelucon. Agar kita tidak ikut menormalisasi kekerasan yang sebenarnya sedang kita lawan.
Referensi:
- Prusaczyk, E., & Hodson, G. (2020). “To the moon, Alice”: Cavalier humor beliefs and women’s reactions to aggressive and belittling sexist jokes. Journal of Experimental Social Psychology, 88, 103973. https://doi.org/10.1016/j.jesp.2020.103973
- Tan, S. (2025). Sadece şaka değil: Sosyal medyada mizah perdesi altında kadına yönelik dijital şiddetin normalleştirilmesi. Fiscaoeconomia, 9(Toplumsal Cinsiyet Özel Sayısı), 441–457. https://doi.org/10.25295/fsecon.1720187
- Nayef, H., & El-Nashar, M. (2014). “Dissecting the poisoned honey”: Sexist humor in Egypt: A linguistic analysis of sexism in colloquial Cairene Arabic jokes. Anàlisi, 50, 131–146. https://doi.org/10.7238/a.v0i50.2324
- Universidad de Granada. (2009). Sexist jokes spur violence against women. https://canal.ugr.es/prensa-y-comunicacion/medios-digitales/health24news-eeuu/sexist-jokes-spur-violence-against-women/
