Mengapa Kondom Perempuan Masih Belum Populer? Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com-  Ketika bicara soal kontrasepsi, pilihan untuk laki-laki dan perempuan masih dirasa timpang. Laki-laki punya satu alat kontrasepsi yang populer, praktis, dan tanpa efek samping hormonal yaitu kondom. Sementara itu, perempuan justru dihadapkan pada beragam opsi yang sering kali melibatkan tubuh dan hormonnya. Mulai dari pil KB, suntik, hingga implan berbentuk kecil seperti batang segitiga yang ditanam di bawah kulit.

Semua metode itu efektif, tetapi kerap membawa efek samping hormonal seperti perubahan suasana hati, berat badan, termasuk siklus menstruasi yang tak menentu.

Namun, ada satu pilihan yang masih jarang dibicarakan, yaitu kondom untuk perempuan. Sama seperti kondom laki-laki, alat ini melindungi dari kehamilan dan infeksi menular seksual tanpa mengganggu kerja hormon. Jenis kontrasepsi ini memberi kendali penuh bagi perempuan atas tubuh dan seksualitasnya. Sayangnya pilihan ini tidak populer di Indonesia.

Apa Itu Kondom Perempuan?

Kondom perempuan dikenal juga dengan istilah femidom atau internal condom—adalah alat kontrasepsi berbentuk tabung tipis yang terbuat dari bahan nitril (karet sintetis) atau lateks buatan laboratorium. 

Melansir dari WebMD, kondom perempuan justru digunakan di dalam tubuh, tepatnya di dalam vagina. Bentuknya lebih lebar dibanding kondom laki-laki dan memiliki dua cincin, satu di bagian dalam yang menjaga agar kondom tetap berada pada posisinya, dan satu di bagian luar yang menutupi sebagian vulva agar tidak masuk terlalu dalam.

Direktur Global Public Sector, ari The Female Health Company, Simone Martins, mengatakan penggunaan kondom perempuan sejauh ini hanya untuk dipakai di vagina, tidak di area bagian tubuh lainnya. “Kondom wanita belum disetujui untuk penggunaan anal karena dirancang untuk dipakai di vagina. Jadi, hingga uji klinis dilakukan, kami, sebagai produsen, tidak dapat mempromosikan FC2 untuk penggunaan anal,” katanya.

Secara fungsi, baik kondom untuk laki-laki mau pun perempuan sama-sama melindungi dari kehamilan dan infeksi menular seksual (IMS). Yaitu mencegah kontak langsung antara cairan tubuh dua orang. Ibarat payung yang menahan hujan, kondom ini jadi penghalang yang mencegah “pertukaran” cairan yang bisa membawa sperma maupun kuman.

Jika digunakan dengan benar, efektivitasnya dapat mencapai 95%. Tetapi jika penggunaannya tidak tepat—misalnya robek atau terlepas—risiko kehamilan dan penularan IMS tetap ada.

Penting untuk diingat bahwa kondom perempuan dan kondom laki-laki tidak boleh digunakan secara bersamaan. Gesekan antara dua lapisan kondom justru dapat menyebabkan keduanya robek.

Baca juga: Krisis Pendanaan Global, Mengancam Layanan Kesehatan Reproduksi Termasuk di Indonesia

Kelemahan dan Tantangan

Meskipun demikian, penggunaan kondom perempuan juga memiliki kelemahan. Seperti dilansir dari Healthline, sebagian pengguna merasa kondom perempuan agak sulit dipasang atau kurang nyaman, terutama saat pertama kali mencobanya. Namun, hal ini dapat diatasi dengan latihan dan pemahaman yang baik.

Tantangan terbesar justru terletak pada aksesibilitas dan harga. Di banyak negara, termasuk Indonesia, kondom perempuan tidak mudah ditemukan di pasaran. Di Amerika Serikat saja, hanya ada satu merek yang disetujui oleh FDA, yaitu FC2.

Simone menambahkan, harga FC2 bervariasi di pasaran tergantung pada volume dan pelanggan. Misalnya, untuk UNFPA sebagai pelanggan utama berlaku harga standar FC2 US$ 0,53. Sejauh ini, lanjutnya, Kementerian Kesehatan di berbagai negara mendistribusikannya secara gratis di fasilitas kesehatan untuk pencegahan STI/HIV-AIDS serta perencanaan keluarga.

“Meskipun kurangnya pengetahuan tentang manfaat kondom wanita yang melampaui pencegahan, FC2 telah didistribusikan di 150 negara di seluruh dunia dan upaya akan terus dilanjutkan agar lebih banyak wanita dan pria dapat mengakses metode perlindungan ganda yang luar biasa ini,” ungkap Simone Martins saat dijumpai Bincang Perempuan dalam The Seventh International Conference on Family Planning (ICFP), yang berlangsung pada 3–6 November 2025 di Bogota, Kolombia.

Simone Martins, Direktur Global Public Sector dari The Female Health Company saat menjelaskan terkait penggunaan kondom perempuan. (foto: Betty Herlina/bincangperempuan)

Simone mengatakan kondom perempuan FC2 hadir sebagai alat perlindungan yang memberi perempuan kendali atas tubuh dan kesehatan seksualnya. Panduan penggunaannya menekankan kenyamanan, keamanan, dan hak untuk memilih. Mulai dari memeriksa kemasan, mengoleskan pelumas, hingga memasukkan cincin dalam ke vagina dengan posisi yang nyaman, FC2 dirancang agar perempuan dapat menggunakan alat kontrasepsi ini secara mandiri dan bermartabat.

Setelah digunakan, kondom dibuang dengan aman tanpa risiko pencemaran. Jika terjadi kesalahan penggunaan, seperti penis keluar dari kondom, pengguna dianjurkan untuk segera mengganti dengan yang baru. Edukasi ini menegaskan pentingnya komunikasi dan persetujuan dalam hubungan seksual.

“FC2 bukan sekadar alat kontrasepsi. Ini adalah simbol hak atas informasi, perlindungan, dan kendali tubuh perempuan,” lanjutnya.

Baca juga: Hak Atas Kesehatan: Fondasi Menuju Akses Universal terhadap Hak Seksual dan Reproduksi

Mengapa Jarang Dibicarakan?

Ada beberapa alasan mengapa kondom perempuan nyaris tidak pernah menjadi topik umum dalam diskusi tentang kontrasepsi.

Penyebab utamanya ialah kurangnya edukasi publik. Dalam banyak program pendidikan kesehatan reproduksi, pembahasan mengenai kontrasepsi masih berpusat pada metode hormonal atau kondom laki-laki. Kondom perempuan bahkan tidak disebutkan.

Selain itu, terdapat stigma sosial bagi perempuan yang membawa atau membicarakan kondom. Mereka akan dicap “terlalu aktif secara seksual”, sementara laki-laki yang melakukan hal yang sama dianggap bertanggung jawab. Paradigma ini membuat perempuan ragu untuk mempelajari dan menggunakan kondom perempuan, padahal alat ini justru memberi mereka perlindungan dan kemandirian.

Terakhir, promosi dan distribusi kondom perempuan masih sangat minim. Produk kontrasepsi perempuan yang tidak berbasis medis, seperti kondom, tidak banyak dipasarkan. Fokus industri kesehatan reproduksi masih cenderung pada alat atau obat yang memerlukan resep dokter—pil, suntik, atau implan—yang secara ekonomi lebih menguntungkan bagi produsen dan fasilitas kesehatan.

Kondom perempuan dikembangkan dalam berbagai pilihan aroma, sebagai bagian dari upaya menghormati preferensi dan kenyamanan perempuan dalam menjaga kesehatan seksualnya. (foto: Betty Herlina/Bincang Perempuan)

Lebih dari Sekadar Alat Kontrasepsi

Pada dasarnya, kontrasepsi bukan hanya urusan medis, melainkan juga urusan kuasa atas tubuh. Kondom perempuan memberikan kesempatan bagi perempuan untuk mengatur sendiri bagaimana ia ingin melindungi dirinya—tanpa bergantung pada keputusan pasangannya.

Dalam masyarakat yang masih sering membatasi pembicaraan tentang seksualitas perempuan, keberadaan kondom perempuan seharusnya dipahami sebagai simbol kebebasan, bukan sesuatu yang memalukan.

Kondom perempuan mungkin belum sepopuler alat kontrasepsi lainnya, tetapi keberadaannya penting. Ia menawarkan perlindungan ganda dari kehamilan dan dari infeksi menular seksual tanpa mengganggu keseimbangan hormon tubuh. Selain itu juga memberi ruang bagi perempuan untuk benar-benar memegang kendali atas tubuhnya sendiri.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menganggapnya tabu. Membicarakan kondom perempuan bukan berarti mendorong perilaku tertentu, tetapi mengakui bahwa setiap perempuan berhak tahu dan memilih bentuk perlindungan yang paling sesuai dengannya. Karena pada akhirnya, tubuh ini milik kita sendiri. Bukan seharusnya orang lain yang menentukan bagaimana kita menjaganya.

*) Betty Herlina ikut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

SHERights

Teras

Artikel Lainnya

HIVAIDS Ancam Generasi Muda Bengkulu, Ini Cara Mencegahnya!

HIV/AIDS Ancam Generasi Muda Bengkulu, Ini Cara Mencegahnya! 

Perempuan Harus Mengambil Peran Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan

Retno Agustina, Satu-satunya Rektor Perempuan

Retno Agustina, Satu-satunya Rektor Perempuan PTN di Sumatera

Leave a Comment