Bincangperempuan.com- COP30 baru saja selesai digelar di kawasan Amazon—ruang hidup yang selama ini menjadi paru-paru dunia sekaligus wilayah yang paling terancam oleh ekspansi ekstraktif. Pertemuan tahunan yang berada di bawah koordinasi UNFCCC ini adalah momentum penting bagi 197 negara untuk menahan laju krisis iklim yang makin mendesak.
Namun realitanya tidak sesederhana itu. Pengaruh korporasi semakin menguat, dan ketergantungan pada bahan bakar fosil tetap dipertahankan. Di sisi lain, perspektif ekonomi feminis yang sesungguhnya menawarkan kerangka transformatif masih belum menjadi arus utama dalam pembahasan iklim. Padahal pendekatan ini sangat relevan untuk memahami akar persoalan dan merumuskan solusi yang benar-benar adil dan berkelanjutan.
Krisis Iklim Bukan Sekadar Perubahan Alam, Tetapi Produk Sistem Ekstraktif
Krisis iklim lahir dari sistem yang memposisikan alam sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Pada saat yang sama, kerja perawatan yang mayoritas dilakukan perempuan—kerap dianggap tidak bernilai ekonomi. AWID (Association for Women’s Rights in Development) menyebut bahwa dua bentuk eksploitasi ini menjadi fondasi utama krisis iklim yaitu perampasan alam dan kerja perawatan yang masih dianggap remeh.
Sistem ini terus diperkuat melalui kolonialisme, rasisme, perampasan tanah, konsentrasi kepemilikan lahan, serta kebijakan ekonomi yang mengutamakan keuntungan alih-alih keberlanjutan hidup. Karena itu, membahas krisis iklim tanpa menyentuh ketidakadilan gender dan sejarah eksploitasi global, tidak akan menyentuh akar persoalan.
Baca juga: Hutan Bukit Sanggul, Risiko Tambang dan Hak Perempuan yang Terlupakan
Alternatif Ekonomi Feminis: Pendekatan Berbasis Perawatan dan Keadilan
Oleh karena itu diperlukan Feminist Economic Alternatives (FEA) sebagai kerangka ekonomi feminis dengan pendekatan yang menempatkan perawatan, keberlanjutan hidup, dan kesejahteraan kolektif di atas keuntungan. Pendekatan ini menantang akar persoalan seperti patriarki, kolonialisme, ekonomi ekstraktif, dan supremasi rasial.
Alternatif ini juga mengangkat pengalaman dan pengetahuan komunitas yang berada di garis depan—perempuan, masyarakat adat, pekerja informal—yang selama ini paling terdampak oleh krisis iklim. Mereka menegaskan bahwa keberlanjutan tidak dapat dicapai tanpa memperkuat hubungan timbal balik antara manusia dan alam.
Mengapa Perspektif Ini Penting dalam COP30?
Dalam konteks COP30, FEA menjadi penting karena memberikan cara pandang yang lebih jujur dan transformatif terhadap kebijakan iklim. Pendekatan ini menegaskan bahwa krisis iklim tidak dapat diselesaikan selama kepentingan korporasi masih menguasai ruang pengambilan keputusan. Data AWID menunjukkan bahwa:
- COP29 menghadirkan 1.773 pelobi industri fosil, jumlah yang melebihi gabungan delegasi dari 10 negara paling rentan terhadap iklim.
- Mekanisme pasar karbon diproyeksikan memungkinkan korporasi tetap mengemisi 1,5–2,5 gigaton karbon hingga 2050.
- Negara-negara Global Minority (Global North) menghabiskan US$2,7 triliun untuk militer pada 2024, tetapi hanya berkomitmen US$300 miliar untuk menghadapi krisis iklim.
- Pada 2023, 196 pembela lingkungan terbunuh, 43% di antaranya masyarakat adat.
Data di atas menunjukkan betapa timpangnya arah kebijakan iklim global: ruang negosiasi dipenuhi kepentingan korporasi, solusi palsu terus dipromosikan, dan kelompok yang paling terdampak justru paling sedikit dilibatkan. Di sinilah FEA menjadi relevan, karena menawarkan pembacaan yang menempatkan perawatan, keadilan, dan pengalaman komunitas garis depan sebagai dasar kebijakan, bukan sekadar angka emisi atau keuntungan ekonomi.
Baca juga: Ramai Pembalut Repack di Pasaran, Apakah Aman?
Contoh Nyata Feminist Economic Alternatives
Dokumen AWID juga menunjukkan bahwa FEA sudah dipraktikkan di berbagai belahan dunia melalui inisiatif komunitas. Di Afrika Barat, gerakan NSS yang melibatkan ratusan asosiasi perempuan menerapkan agroekologi yang terbukti menurunkan risiko longsor hingga 48 persen. Komunitas quilombola di Brasil membangun pasar solidaritas dan mendistribusikan ratusan ton pangan selama pandemi. Di Zimbabwe, perempuan Bikita mengembangkan energi komunitas sebagai alternatif terhadap tambang lithium yang mengancam ruang hidup mereka. Di São Paulo, MSTC mengubah gedung kosong menjadi hunian kolektif bagi keluarga berpenghasilan rendah. Sementara di Peru, perempuan adat menjaga hampir satu juta hektare hutan melalui pemantauan komunitas yang lebih efektif dibanding sistem konservasi negara.
Semua ini menegaskan bahwa solusi iklim paling nyata justru muncul dari komunitas yang telah lama merawat alam, bukan dari teknologi mahal atau proyek korporasi.
Tuntutan dari Perspektif FEA
Mengacu pada dokumen AWID dan berbagai koalisi gerakan perempuan di COP30, beberapa tuntutan utama yang perlu dikedepankan antara lain:
- Mengakhiri dominasi korporasi dalam proses UNFCCC dan membatasi pelobi fosil.
- Menghapus mekanisme pasar karbon dan offset, menggantinya dengan investasi pada agroekologi dan ekonomi solidaritas.
- Menyalurkan pendanaan iklim dalam bentuk hibah, bukan utang, sebagai bentuk reparasi atas sejarah eksploitasi kolonial.
- Mereformasi sistem keuangan global melalui penghapusan utang dan perpajakan progresif terhadap pencemar besar.
- Mengalihkan anggaran militer ke layanan publik dan sistem perawatan.
- Menyalurkan dana langsung ke organisasi perempuan, masyarakat adat, dan komunitas akar rumput.
- Menempatkan perawatan sebagai fondasi transisi berkeadilan dan keberlanjutan hidup.
COP30 menegaskan bahwa krisis iklim tidak akan selesai jika solusi masih dikendalikan kepentingan korporasi dan ekonomi ekstraktif. Perspektif ekonomi feminis mengingatkan bahwa transisi yang adil hanya mungkin terjadi ketika perawatan, solidaritas, dan kehidupan kolektif menjadi pusat kebijakan. Contoh-contoh nyata FEA menunjukkan bahwa model alternatif sudah ada dan bekerja. Tanpa perubahan paradigma, COP hanya akan menjadi panggung retorika tahunan.
Referensi:
- AWID. (2025). Feminist economic alternatives: Linking feminist economic alternatives and climate justice. AWID. https://www.awid.org/sites/default/files/2025-10/awid-fea-en.pdfÂ
