National Girlfriend Day, Ternyata Bukan Cuma Soal Pacar

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Setiap tanggal 1 Agustus, lini masa media sosial dan etalase toko ritel mendadak dipenuhi kampanye promosi buket bunga, cokelat, hingga diskon makan malam. Peringatan National Girlfriend Day dipasarkan sedemikian rupa sebagai momentum bagi laki-laki untuk merayakan pasangan romantisnya.

Tapi, jika menelisik sejarah dan gagasan awal penciptaannya, perayaan ini ternyata tidak melulu soal merayakan hubungan romantis atau percintaan. Malahan peringatan penghormatan terhadap ikatan pertemanan perempuan (sisterhood dan girlhood).

Pergeseran Makna Etimologis “Girlfriend”

Menurut catatan kamus Merriam-Webster, kata “girlfriend” pertama kali muncul pada tahun 1859. Pada era tersebut, istilah ini secara murni merujuk pada ikatan pertemanan sesama perempuan (female friends).

Baru pada era 1920-an—seiring dengan maraknya budaya kencan modern (dating)—kata “girlfriend” mulai mengadopsi arti kedua, yakni hubungan romantis antara seseorang dengan pasangan perempuannya. Hingga hari ini, istilah tersebut secara linguistik mempertahankan dua makna sekaligus: jaringan dukungan antarperempuan atau pasangan romantis.

Baca juga: Akses Terbuka, Stigma Masih Ada: Kenapa Layanan Kespro Belum Aman untuk Perempuan Muda?

Sejarah National Girlfriend Day

National Girlfriend Day sebenarnya lahir dari ruang-ruang lanskap digital awal tahun 2000-an (Web 2.0)—era di mana forum internet dan blog pribadi menjadi tempat berteduh utama bagi perempuan untuk saling bertukar ide. Peringatan ini tidak pernah dirancang lewat dekrit resmi negara atau korporasi besar, tetapi tumbuh secara organik sebagai perayaan akar rumput (grassroots celebration) atas pentingnya support system sesama perempuan.

Arsip digital mencatat setidaknya dua versi asal muasal kelahiran perayaan ini:

  • Inisiatif Mistress Susan (2004): Seorang penulis dan pengelola situs gaya hidup independen meluncurkan gagasan tanggal 1 Agustus sebagai bentuk penghormatan eksplisit untuk girlfriends—dalam artian kawan perempuan yang selalu hadir mendukungnya. Ia merasa bahwa hubungan persahabatan perempuan sering kali dianggap sebagai “pilihan kedua” setelah pernikahan atau pacaran, padahal kontribusi emosionalnya luar biasa besar.
  • Gerakan Sisterwoman.com oleh Allie Savarino Kline & Sally Rodgers (2006): Dua kreator ini secara formal mengklaim dan mempopulerkan National Girlfriend Day melalui platform buatan mereka, Sisterwoman.com. Situs ini dulunya beroperasi sebagai ruang aman digital (digital safe space) tempat para perempuan bisa berdiskusi, merayakan pencapaian satu sama lain, hingga saling menguatkan di tengah isu-isu domestik maupun profesional. 

Artinya, pada mulanya perayaan ini adalah wujud resistensi kecil terhadap narasi yang selalu menempatkan relasi heteronormatif di puncak hirarki sosial. Ini adalah ruang perayaan tempat perempuan tidak diukur dari siapa pasangannya, melainkan dari seberapa kokoh jaring solidaritas yang mereka bangun bersama sesamanya.

Komodifikasi, Amatonormativity, dan Pembajakan Platonic Love

Lantas, bagaimana perayaan persahabatan ini bisa berbelok tajam menjadi festival hadiah untuk pasangan romantis? Algoritma media sosial, industri pemasaran digital, dan ideologi amatonormativity—yaitu asumsi sosial bahwa relasi romantis-monogamis adalah bentuk hubungan paling superior, paling bernilai, dan paling “normal” dalam hidup manusia.

Seiring pesatnya perkembangan platform berbasis visual seperti Instagram dan TikTok, National Girlfriend Day dengan cepat mengalami penyempitan makna (flattening of meaning). Industri kapitalis menyadari bahwa ikatan persahabatan platonik yang tulus sulit dikomodifikasi karena bersifat non-transaksional dan tidak membutuhkan validasi barang mewah. Sedangkan, hubungan romantis bisa menjadi tambang emas untuk komodifikasi.

Kapitalisme media bekerja memproduksi kecemasan relasional. Setiap menjelang 1 Agustus, lini masa dijejali konten seperti “Kalau cowokmu nggak ngasih bunga atau nge-post kamu di National Girlfriend Day, artinya dia nggak serius.” Penjualan bunga, cokelat, paket fine dining, hingga barang fashion dipasarkan sebagai simbol pembuktian rasa cinta.

Dalam ekosistem ini, keberadaan perempuan direduksi menjadi sekadar objek performa digital (performance of love). Kualitas hubungan diukur dari sejauh mana pasangan prianya mau melakukan transaksi ekonomi dan memamerkannya ke publik. Wacana women supporting women—yang dulunya menjadi jiwa utama 1 Agustus—dipinggirkan dan digantikan oleh validasi laki-laki (male validation).

Baca juga: Girlhood, Upaya Mendapatkan Hak Perempuan Seutuhnya

Merebut Kembali Girlhood

Tentu tak ada yang salah dengan menunjukkan kasih sayang ke pasangan romantis di hari tersebut. Masalahnya baru muncul ketika narasi ini pelan-pelan menghapus sejarah ruang aman yang susah payah dibangun oleh para inisiator awalnya.

Mengembalikan makna National Girlfriend Day itu ibarat aksi perlawanan kecil terhadap kendali kapitalisme digital. Ini momen buat kita menempatkan kembali sahabat, saudara, hingga rekan kerja perempuan—sosok-sosok yang selama ini beneran saling menopang—ke pusat perayaan.

Langkah sederhananya bisa dimulai dari hal-hal kecil berikut:

  • Geser Fokus di Medsos: Alih-alih memamerkan buat pasangan romantis, pakai momen ini buat merayakan ketangguhan kawan-kawan perempuan yang selama ini jadi jaring pengaman emosional (emotional safety net) dalam hidupmu.
  • Apresiasi Care Work yang Tak Terlihat: Jujur pada diri sendiri bahwa tanpa support system sesama perempuan, banyak dari kita yang mungkin bakal runtuh menghadapi himpitan sistem patriarki yang melelahkan tiap harinya.
  • Tolak Ukuran Konsumtif Kapitalis: Merayakan sisterhood tidak harus lewat buket bunga mahal. Cukup dengan hadir utuh, mau mendengarkan, atau sesederhana bilang ke sahabatmu bahwa keberadaannya berarti dan berharga.

Pada akhirnya, 1 Agustus harusnya jadi pengingat bahwa kita selalu punya ruang hangat bernama sisterhood untuk pulang dan saling menguatkan.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Monika Maritjie Kailey Perempuan Adat Penjaga AruHan Kang, Perempuan Asia Pertama Peraih Nobel Sastra

Monika Maritjie Kailey: Perempuan Adat Penjaga Aru

Paradoks Mahasiswa: 40,5% Terlibat FWB tapi Edukasi Seks Tetap Jadi Tabu

Bukan Sekadar Kelemahan Individu: Mengapa Kekerasan Berbasis Gender Berujung Bunuh Diri?

Leave a Comment