Pacaran sama Brondong: Apa Benar Umur Hanyalah Angka?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Hubungan artis Olla Ramlan dengan kekasihnya yang terpaut usia cukup jauh—Tristan Molina—menjadi perbincangan netizen. Pasalnya usia Olla Ramlan 45 tahun, sedangkan Tristan baru menginjak usia 20 tahun. Jarak usia pasangan ini terpaut 25 tahun, sehingga memicu beragam respon. Sebagian mempertanyakan etika hubungan tersebut, sementara sebagian lain membelanya dengan alasan keduanya telah berada pada usia legal. 

Tak sedikit pula komentar bernada sinis yang menyebut, “kok mau sih sama brondong?” atau justru sebagian menganggapnya lucu “ih lucu deh sama brondong”. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah: apakah hubungan dengan jarak usia yang terpaut jauh itu masih etis?

Umur Hanyalah Angka?

Sering kali hubungan romantis dengan perbedaan usia yang jauh dibenarkan melalui narasi “umur hanyalah angka”. Secara hukum, memang tidak ada yang dilanggar ketika dua orang dewasa menjalin hubungan.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada status legal. bayangkan ketika satu pihak telah menyelesaikan pendidikan tinggi, mapan secara ekonomi, dan memiliki pengalaman hidup panjang, sementara pihak pasangan justru malah baru lahir ke dunia.

Perbedaan usia yang jauh berimplikasi pada perbedaan perkembangan psikologis, pengalaman hidup, dan cara memandang masa depan. Kesenjangan inilah yang kerap membentuk relasi kuasa yang tidak seimbang. 

Ketimpangan tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk manipulasi yang eksplisit, tetapi dapat muncul melalui perbedaan ekspektasi hidup, pengambilan keputusan, hingga arah relasi jangka panjang yang tidak selaras.Relasi dengan jarak usia yang besar juga tidak terbatas pada satu gender saja. Baik ketika perempuan lebih tua maupun laki-laki yang jauh lebih tua, potensi masalah tetap ada. 

Dalam situasi konflik, usia dapat dijadikan alat untuk menuntut kedewasaan sepihak atau bahkan menjadi bentuk gaslighting, dengan dalih “aku lebih berpengalaman”. Selain itu, persoalan biologis dan rencana masa depan turut menjadi faktor penting. Misalnya, ketika perempuan yang lebih tua menghadapi fase menopause, sementara pasangan yang lebih muda masih menginginkan keturunan.

Risiko serupa juga dialami perempuan yang jauh lebih muda dari pasangannya. Ketika pasangan mulai menua dan tidak lagi produktif, beban perawatan kerap jatuh pada perempuan. Beban ini dapat menjadi berlapis ketika perempuan juga harus mengurus anak. Dalam konteks sosial yang lebih luas, perempuan yang menikah dengan laki-laki jauh lebih tua berpotensi menghadapi beban perawatan ganda—merawat anak sekaligus pasangan lansia.

Baca juga: #SamaSamaAman: Petaka Perempuan di Balik Gawai Pintar

Risiko Psikososial dalam Hubungan dengan Gap Usia Besar

Studi Oudekerk, Guarnera, dan Reppucci (2014) menemukan bahwa semakin besar perbedaan usia dalam hubungan,semakin tinggi kemungkinan remaja terlibat dalam aktivitas seksual, sekaligus semakin rendah menggunakan perlindungan terhadap kehamilan dan infeksi menular seksual. 

Perbedaan usia yang lebar juga berkaitan dengan meningkatnya pengalaman kekerasan emosional dan fisik, serta risiko terjadinya perilaku seksual yang tidak diinginkan. Temuan ini konsisten tanpa perbedaan signifikan berdasarkan gender maupun usia pasangan yang lebih muda.

Lebih lanjut, penelitian tersebut menemukan bahwa hubungan dengan perbedaan usia yang besar cenderung berpotensi mengantarkan keduanya kepada gaya hidup berisiko, seperti penggunaan zat adiktif dan perilaku menyimpang. 

Faktor gaya hidup ini bisa menjadi dampak ketimpangan dalam pengambilan keputusan—yang menjelaskan keterkaitan antara perbedaan usia dengan keterlibatan seksual dan pengalaman viktimisasi. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan jarak usia pasangan, tidak hanya batas usia persetujuan secara formal, tetapi juga agar menilai kerentanan dan kapasitas dalam hubungan.

Perbedaan Usia dan Kesehatan Mental

Dampak perbedaan usia juga terlihat dalam aspek kesehatan mental. Penelitian Kim, Park, dan Lee (2015) melalui The Korean Longitudinal Study of Aging menunjukkan bahwa perbedaan usia dalam pasangan berkorelasi dengan meningkatnya gejala depresi. 

Pasangan dengan selisih usia hingga tiga tahun saja memiliki tingkat gejala depresi yang lebih tinggi dibanding pasangan seumuran. Ketika jarak usia melebihi tiga tahun, tingkat keparahan gejala depresi meningkat hampir dua kali lipat. Setiap tambahan selisih usia satu hingga dua tahun turut berkontribusi pada peningkatan skor depresi secara signifikan.

Temuan ini menegaskan bahwa perbedaan usia bukan sekadar persoalan angka, melainkan berkaitan erat dengan perbedaan fase hidup, serta dinamika relasi yang memengaruhi kesehatan mental, terutama dalam hubungan jangka panjang.

Sejalan dengan itu, psikolog klinis Michelle Tania, M.Psi., dari Ohana Space, mengungkapkan dalam DetikHealth bahwa perbedaan usia ideal dalam hubungan di negara-negara maju umumnya berada pada kisaran dua hingga tiga tahun. Atau dengan batas maksimal sekitar 15 tahun. Melebihi itu, tantangan relasi cenderung semakin kompleks.

Baca juga: Ketika Negara Absen di Jalan Desa: Buramnya Akses Kesehatan Perempuan di Bengkulu

Istilah Brondong itu Problematik

Di tengah perbincangan mengenai hubungan beda usia, istilah “brondong” kerap digunakan ketika perempuan menjalin hubungan dengan laki-laki yang jauh lebih muda. Istilah ini terdengar ringan dan bercanda, tetapi sejatinya problematik. Kata “brondong” mereduksi laki-laki muda menjadi sekadar objek usia dan tubuh, bukan subjek dengan agensi, emosi, dan kehendak.

Selain itu, istilah ini mengesankan laki-laki muda sebagai sosok yang belum matang, polos, dan mudah dibentuk. Narasi tersebut berbahaya karena menghapus kapasitas kritis pihak yang lebih muda sekaligus menormalisasi dominasi pihak yang lebih tua dengan dalih pengalaman. Penggunaan istilah “brondong” hanya mengaburkan apakah fase hidup keduanya setara.

Dan ketika relasi dibalik—laki-laki jauh lebih tua dengan perempuan muda—publik cenderung lebih waspada dan kritis. Namun, ketika perempuan lebih tua dengan laki-laki muda, relasi serupa justru dianggap lucu atau nyeleneh. Standar ganda ini menunjukkan inkonsistensi dalam menilai relasi kuasa.

Hubungan yang Sehat adalah Hubungan Setara

Pada akhirnya, usia legal tidak selalu berarti relasi setara. Cinta pun tidak bebas dari struktur sosial, dan preferensi pribadi tidak kebal dari kritik etis. Jatuh cinta memang manusiawi, tetapi keputusan untuk menjalin hubungan berada dalam kendali masing-masing individu. 

Oleh karena itu penting untuk mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang, mulai dari perbedaan fase hidup hingga dampaknya terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan kedua belah pihak. 

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Saatnya Mengakhiri Stigma Menstruasi

Perempuan dan Beban Kontrasepsi

Minim Laporan atas Kasus Pemberitaan Kekerasan Seksual

Minim Laporan atas Kasus Pemberitaan Kekerasan Seksual

Leave a Comment