Pendidikan Seksualitas Komprehensif: Kunci Kesejahteraan Remaja dan Kesetaraan Gender di Asia Pasifik

Betty Herlina

News

Bincangperempuan.com- Pendidikan seksualitas komprehensif (Comprehensive Sexuality Education/CSE) kerap dianggap tabu di banyak negara, padahal merupakan fondasi penting bagi kesejahteraan anak, remaja, dan kaum muda. Melalui pendidikan seksualitas yang komprehensif, remaja akan dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk membuat keputusan yang aman, sehat, dan percaya diri dalam kehidupan mereka.

“Setiap anak, remaja, dan kaum muda berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang tubuh mereka, relasi, serta keterampilan hidup yang memungkinkan mereka membuat pilihan yang aman. Pendidikan seksualitas komprehensif adalah bagian dari hak tersebut,” ujar Sai Jyothirmai Racherla, Wakil Direktur Eksekutif The Asian-Pacific Resource & Research Centre for Women (ARROW), dalam sesi SHE & Rights yang digelar menjelang Konferensi Internasional tentang Keluarga Berencana (ICFP) 2025 di Bogotá, Kolombia.

Guru di Garis Depan Pendidikan Seksualitas

Sebagai advokat untuk kesehatan, hak, dan keadilan seksual dan reproduksi, ARROW menekankan pentingnya memastikan akses terhadap pendidikan seksualitas komprehensif dalam sistem pendidikan formal. “Kami memandang guru sebagai pemangku kepentingan yang krusial. Karena itu, dialog multipihak Asia Pasifik kali ini berfokus pada bagaimana guru dapat menjadi fasilitator yang efektif dalam penyediaan pendidikan seksualitas komprehensif,” jelas Sai.

Dialog yang diselenggarakan oleh ARROW bersama UNESCO, UNICEF, UNFPA, Education International, SDG-4 Youth and Student Network, serta Y-PEER Asia Pasifik ini dihadiri lebih dari 160 peserta dari masyarakat sipil, akademisi, dan pejabat kementerian pendidikan di Asia Selatan dan Asia Tenggara — termasuk 20 perwakilan pemerintah.

“Ini tonggak penting: untuk pertama kalinya begitu banyak pejabat kementerian pendidikan berkumpul membahas kesejahteraan remaja dan peran CSE sebagai poros utama,” ujar Sai.

Baca juga: Bengkulu Darurat Perkawinan Anak: 625 Kasus dalam Setahun

Investasi pada Pelatihan Guru: Kunci Implementasi CSE

Salah satu rekomendasi penting dari pertemuan ini adalah perlunya investasi dalam pelatihan guru pra-jabatan dan dalam jabatan agar pendidikan seksualitas komprehensif bisa diterapkan secara efektif dan inklusif. “Kita tidak hanya bicara kurikulum siswa, tapi juga kurikulum pelatihan guru yang harus mencakup pendidikan seksualitas komprehensif,” tegas Sai.

Hal senada disampaikan oleh Dr. Pam Rajput, Profesor Emeritus dan pendiri Pusat Studi dan Pengembangan Perempuan Universitas Panjab, India. “Sebagai seorang feminis dan guru, saya sangat senang isu kesejahteraan guru diangkat. Akhirnya komunitas kami diakui dan didengar,” ujarnya.

Membangun Sistem Pendidikan yang Kuat dan Berkeadilan

ARROW juga mendorong penguatan sistem pendidikan melalui investasi berkelanjutan dan pelibatan bermakna dari guru serta kaum muda dalam penyusunan kurikulum pelatihan. “Guru dan remaja harus dilibatkan sejak tahap perancangan hingga evaluasi kurikulum. Tanpa itu, kita kehilangan konteks dan relevansi,” kata Sai.

Ia menambahkan bahwa pendekatan sekolah transformatif gender perlu diintegrasikan, agar pembelajaran tidak hanya berfokus pada siswa, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan psikososial guru. “Tidak mungkin guru memberikan pendidikan seksualitas yang sehat jika mereka sendiri tidak berada dalam lingkungan yang mendukung dan sejahtera,” ujarnya.

Suara Kaum Muda: Akuntabilitas dan Partisipasi Bermakna

Kaum muda juga menyuarakan kebutuhan mendesak akan CSE yang inklusif dan relevan dengan realitas mereka. “Masih banyak remaja menghadapi stigma, misinformasi, dan minimnya akses terhadap informasi kesehatan reproduksi,” kata Zuzan dari Y-PEER Laos dan Y-PEER Asia Pacific Centre.

Ia menekankan, “Guru bukan sekadar penyampai ilmu, tapi panutan yang menanamkan nilai kesetaraan, empati, dan rasa hormat. Membekali guru dengan pelatihan CSE berarti menyiapkan generasi yang kritis dan berempati.”

Zuzan juga menegaskan pentingnya partisipasi kaum muda sebagai mitra sejajar dalam merancang dan memantau program CSE. “Akuntabilitas bukan hanya melacak janji, tapi juga memastikan sumber daya tersedia dan dijalankan. Kaum muda harus menjadi bagian dari pengambilan keputusan, bukan sekadar penerima manfaat,” tambahnya.

Baca juga: Ruang Aman Anak di Bengkulu: Kegentingan yang Terabaikan

Saatnya Bergerak Bersama

Pendidikan seksualitas komprehensif bukan sekadar isu moral, tapi strategi pembangunan manusia. Ia berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 3: Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan) serta SDG 5: Kesetaraan Gender. Melibatkan guru, remaja, dan pemerintah secara bermakna, pendidikan seksualitas komprehensif dapat menjadi jembatan menuju generasi yang lebih sehat, setara, dan berdaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

SHERights

Teras

Artikel Lainnya

10 Tahun, 1.131 Kriminalisasi Aktivis Lingkungan

Paradoks Mahasiswa: 40,5% Terlibat FWB tapi Edukasi Seks Tetap Jadi Tabu

Mengapa Perempuan Menjadi Korban Terbanyak Kekerasan dalam Rumah Tangga?

Leave a Comment