Bincangperempuan.com- Kekerasan berbasis gender online (KBGO) memiliki beragam bentuk. Mulai dari komentar yang merendahkan di media sosial hingga praktik penipuan atau pemerasan. Dalam hubungan intim atau berpasangan, kekerasan semacam ini juga kerap terjadi dan sering kali tidak disadari oleh para penyintas.
Pada relasi personal, KBGO biasanya muncul dalam bentuk kontrol. Salah satu pihak mencoba mengatur ruang digital pasangannya—membatasi interaksi, meminta akses akun media sosial, hingga melarang komunikasi dengan orang lain. Pola ini sering dibungkus sebagai tanda sayang, padahal sejatinya adalah ekspresi ketidaksetaraan dan upaya menguasai.
Di balik pola tersebut, terdapat budaya maskulinitas toksik. Budaya ini menempatkan laki-laki pada posisi yang harus selalu dominan, kuat, dan tidak boleh menunjukkan kerentanan. Akibatnya, ketika laki-laki mengalami kekerasan termasuk KBGO—kerap diabaikan, dan diragukan. Dengan kata lain, budaya yang menuntut laki-laki untuk selalu berdaya justru membuat mereka tidak diperbolehkan menjadi korban
Apa Itu Maskulinitas Toksik?
Maskulinitas kerap dibentuk melalui anggapan bahwa laki-laki harus tampil dominan, agresif, kuat, dan tidak menunjukkan kerentanan. Dalam konstruksi sosial patriarki, sifat-sifat ini diposisikan sebagai standar kejantanan yang harus dipenuhi agar diterima oleh lingkungan. Jika laki-laki dianggap tidak cukup maskulin—misalnya lebih lembut, sensitif, atau tidak sesuai stereotip fisik mereka sering menjadi sasaran bullying, dan pengucilan.
Penelitian menunjukkan bagaimana standar maskulinitas ini bekerja secara rasis dan diskriminatif. Studi tahun 2013 menemukan bahwa, di kalangan mahasiswa kulit putih di Amerika Serikat, laki-laki Asia-Amerika dipersepsikan sebagai “kurang maskulin” dibanding laki-laki kulit putih atau kulit hitam. Temuan ini memperlihatkan bahwa maskulinitas sering dilekatkan pada tubuh, ras, atau performa tertentu, bukan pada sifat personal.
Tekanan untuk selalu tampil kuat juga menimbulkan konsekuensi psikologis. Konsep “John Henryism”—yang merujuk pada dorongan untuk terus bekerja keras dan tetap tegar meskipun berada dalam kondisi diskriminatif dan stres berat—dikaitkan dengan risiko hipertensi dan depresi pada laki-laki Afrika-Amerika.
Selain itu, tekanan agar tetap maskulin juga berdampak pada kelompok pelajar LGBTQ+. Survei iklim sekolah tahun 2015 di Amerika Serikat menunjukkan 85% siswa LGBTQ+ mengalami pelecehan verbal terkait ekspresi gender atau orientasi seksual mereka. Pelajar non biner dan mereka yang tidak mengikuti norma gender tradisional lebih sering mendapatkan perlakuan buruk dibanding mereka yang masih mengikuti norma gender tradisional.
Mengapa ini relevan dengan Indonesia? Karena pola yang sama sangat tampak di lingkungan sekolah kita. Laki-laki yang berbicara lebih lembut, memiliki gestur yang dianggap seperti perempuan atau ekspresif dianggap tidak jantan atau kuat. Akibatnya mereka dibully, direndahkan, atau diasingkan. Konsepsi sempit tentang maskulinitas ini merugikan siapa pun terlepas dari jenis kelamin mereka karena setiap orang berhak mengekspresikan diri tanpa batasan feminin atau maskulin.
Baca juga: #SamaSamaAman: Ketika KBGO Bisa Jadi Celah Kriminalitas Lintas Negara
Maskulinitas Toksik dan Relasi Kuasa yang Tak Memandang Gender
Maskulinitas toksik tidak hanya muncul dalam relasi heteroseksual. Nilai-nilai ini bisa direproduksi siapa saja, termasuk perempuan maupun pasangan sesama jenis. Heteronormativitas—yakni anggapan bahwa relasi ideal selalu laki-laki dominan dan perempuan mengikuti membentuk pola pikir bahwa salah satu pihak harus menguasai, mengontrol, dan menjadi pusat keputusan dalam hubungan.
Tekanan peran seperti “pihak yang maskulin harus menjadi penyedia dan penentu arah” membuat dinamika kekuasaan menjadi tidak setara. Dalam relasi sesama jenis, pola ini tetap muncul di mana salah satu pihak dipaksa mengambil peran dominan, sementara yang lain dituntut untuk lebih pasif. Artinya, nilai-nilai heteronormatif tetap bekerja meski hubungan tersebut tidak heteroseksual. Maskulinitas toksik lebih merupakan pola kekuasaan, bukan identitas laki-laki saja.
Ketika Laki-laki Dilarang Jadi Korban
Maskulinitas toksik tidak hanya merugikan perempuan dan kelompok gender minoritas. Laki-laki sendiri kerap menjadi korban langsung dari standar maskulinitas yang kaku. Tekanan maskulinitas membentuk beban sosial yang berat. Ketika laki-laki mengalami kekerasan—terutama kekerasan berbasis gender online—pengalaman tersebut dianggap tidak sesuai dengan citra maskulin yang dilekatkan pada mereka, sehingga mereka dipandang tidak layak menjadi korban.
Penelitian mengenai representasi laki-laki sebagai korban kekerasan seksual di media daring menunjukkan pola serupa. Dalam kajian terhadap lima media online dengan tingkat kepercayaan publik tertinggi, ditemukan hanya 22 berita sepanjang Januari–Desember 2023 yang menampilkan laki-laki sebagai korban kekerasan seksual. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan keseluruhan pemberitaan kekerasan seksual dalam periode yang sama.
Studi tersebut juga menemukan bahwa representasi laki-laki sebagai korban tidak sepenuhnya setara. Terdapat ketimpangan posisi antara pelaku dan korban laki-laki, serta pola pemberitaan yang menimbulkan reviktimisasi—korban kembali disalahkan, direndahkan, atau dianggap tidak benar-benar mengalami kekerasan. Media cenderung menggambarkan pengalaman kekerasan laki-laki secara tidak utuh, atau menghadirkan narasi yang memperlemah posisi korban.
Temuan ini memperlihatkan bahwa maskulinitas toksik bekerja dalam dua arah, menekan laki-laki agar tampil kuat sepanjang waktu, dan pada saat yang sama menghapus ruang bagi mereka untuk mengakui kerentanan, mencari bantuan, atau mendapatkan perlindungan ketika mengalami kekerasan. Dalam konteks KBGO, tekanan ini semakin nyata. Laki-laki yang menjadi korban sering memilih diam karena takut diejek, tidak dipercaya, atau dilabeli kurang kuat.
Baca juga: #SamaSamaAman: Ketika Kekerasan dalam Rumah Tangga Dilanggengkan di Media Digital
Maskulinitas Toksik Melanggengkan KBGO
Di ruang digital, ketidaksetaraan ini mendapatkan bentuk baru. Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana hubungan seseorang di balik layar, tetapi pola kontrol yang berakar dari maskulinitas toksik sering muncul dalam berbagai bentuk kekerasan berbasis gender online.
Bentuk KBGO yang lahir dari maskulinitas toksik antara lain:
- Kontrol media sosial, seperti meminta kata sandi, memantau percakapan, atau melarang interaksi dengan orang lain.
- Gaslighting digital, di mana pelaku mengubah narasi agar korban merasa bersalah, tidak rasional, atau berlebihan.
- Love bombing diikuti dengan kontrol finansial, membuat korban tergantung secara emosional.
- Ancaman penyebaran konten intim, terutama ketika pelaku telah mengumpulkan foto atau rekaman korban.
- Ketika korban KBGO adalah laki-laki maka mereka dianggap kurang butuh bantuan karena dianggap lebih kuat dan tangguh
Saatnya Membangun Hubungan yang Setara
Oleh karena itu sudah saatnya membangun hubungan yang tidak dibangun di atas dominasi dan kontrol. Setiap orang berhak memiliki ruang aman, baik di dunia nyata maupun digital. Relasi yang sehat adalah relasi yang setara di mana tidak ada pihak yang mengatur, mengintimidasi, atau menguasai.
Mengakhiri maskulinitas toksik berarti membuka pintu bagi relasi yang lebih manusiawi. Dengan saling menghargai, saling menguatkan, dan berbagi peran tanpa memandang gender. Semua orang juga berhak memilih sifat feminin atau maskulin tanpa segregasi gender.
Referensi:
- Hudson, D. L., Neighbors, H. W., Geronimus, A. T., & Jackson, J. S. (2016). Racial discrimination, John Henryism, and depression among African Americans. Journal of Black Psychology, 42(3), 221–243. https://doi.org/10.1177/0095798414567757
- Verywell Mind. (2023). What is toxic masculinity? https://www.verywellmind.com/what-is-toxic-masculinity-5075107#toc-the-roles-of-race-ethnicity-and-gender
- Wong, Y. J., Horn, A. J., & Chen, S. (2013). Perceived masculinity: The potential influence of race, racial essentialist beliefs, and stereotypes. Psychology of Men & Masculinity, 14(4), 452–464. https://doi.org/10.1037/a003010
- SuhandiV. (2024). Penggambaran Laki-Laki Sebagai Korban Kekerasan Seksual dalam Pemberitaan di Media Online. As-Syar’i: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga, 6(3), 1563 – 1577. https://doi.org/10.47467/as.v6i3.7060
