Bincangperempuan.com- Setiap tanggal 10 Oktober, menjadi momen peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia. Tiap tahun, peringatan ini jadi ajang banyak orang bicara tentang self-care, burnout, dan pentingnya terapi. Tapi di negara kayak Indonesia, topik ini masih terasa baru—mungkin baru satu dekade terakhir orang mulai aware bahwa stres, depresi, atau cemas bukan sekadar tanda kurang iman.
Banyak orang beranggapan bahwa kesehatan mental adalah urusan negara maju—karena masyarakatnya sudah sejahtera secara ekonomi. Sedangkan di negara berkembang, orang lebih sibuk bertahan hidup. Logikanya, bagaimana mau stres kalau tiap hari harus mikir besok makan apa? Tapi kalau dipikir lagi, bukankah justru tekanan hidup itulah yang membuat orang rentan secara mental? Apakah menjadi miskin berarti seseorang kehilangan hak untuk lelah dan sedih?
Gen Z: Sadar Mental, Tapi Hidupnya Tidak Stabil
Survei menunjukkan kenyataan yang berbeda dari asumsi itu. Menurut Jakpat (2022), sebanyak 59,1% Gen Z Indonesia mengaku pernah mengalami masalah kesehatan mental. Data I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey, 2022) mencatat 34,9% remaja usia 10–17 tahun menunjukkan gejala gangguan mental. Bahkan IDN Research Institute menemukan lebih dari setengah Gen Z dan milenial (56%) menekankan perlunya layanan kesehatan mental yang terjangkau dan kebijakan kesehatan mental yang efektif. Sementara itu, McKinsey (2023) menyebut Gen Z secara global melaporkan masalah kesehatan mental paling tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Ironisnya, kesadaran ini muncul di tengah kondisi ekonomi yang justru menekan, terutama di Indonesia. Generasi di bawah usia 28 tahun saat ini hidup dalam situasi yang tidak stabil.Data Sun Life Indonesia (2025) bahkan menunjukkan hanya 49% Gen Z merasa aman secara finansial, angka ini jauh jika dibandingkan dengan baby boomers (63%). Artinya, setengah dari anak muda Indonesia merasa hidupnya tidak stabil.
Selain itu survei Populix (2024) yang dikutip dalam Goodstat menunjukkan 69% pengeluaran Gen Z habis untuk kebutuhan dasar seperti makanan, sementara hanya 5% untuk hiburan. Di satu sisi, ini memperlihatkan betapa kerasnya mereka berjuang untuk hidup. Tapi di sisi lain, fakta bahwa mereka tetap memprioritaskan kesehatan mental—entah lewat journaling, meditasi, atau sekadar istirahat dari media sosial—menunjukkan bentuk perlawanan halus terhadap sistem yang menuntut produktivitas tanpa henti.
Mereka yang sudah bekerja menghadapi jam kerja panjang, gaji tak sebanding, dan biaya hidup yang terus naik. Sedangkan yang baru lulus harus bersaing dengan mereka yang terdampak gelombang PHK saat pandemi. Banyak yang mengambil dua atau tiga pekerjaan demi memenuhi kebutuhan. Hidup mereka tetap survive, tapi justru tetap aware dengan kesehatan mental.
Baca juga: Belajar Demokrasi dari Gen Z Nepal yang Pilih Perdana Menteri Lewat Discord
Lalu, kenapa bisa begitu?
Pertama, hadirnya paparan informasi, gen Z tumbuh di tengah arus media sosial yang deras. Mereka terbiasa melihat konten tentang depresi, self-care, dan toxic relationship. Istilah yang dulu dianggap tabu atau asing kini akrab di telinga mereka. Internet membuka ruang bagi mereka untuk memahami diri dan menyadari bahwa “tidak baik-baik saja” bukanlah kelemahan.
Kedua, pengalaman kolektif pandemi membuat banyak orang muda menghadapi kehilangan dan ketidakpastian secara bersamaan. Saat semua runtuh—pekerjaan, sekolah, hubungan—mereka belajar bahwa kesehatan mental adalah kebutuhan dasar, bukan kemewahan.
Ketiga, adanya keinginan untuk memutus pola asuh yang toksik. Banyak Gen Z tumbuh di lingkungan yang menormalisasi kekerasan verbal, penyangkalan emosi, dan narasi “harus kuat.” Kini mereka ingin berbeda. Mereka belajar memberi ruang untuk rapuh, untuk berbicara, untuk mendengar tanpa menghakimi. Kesadaran ini bukan sekadar tren, tapi bentuk perlawanan terhadap warisan luka yang dibungkam generasi sebelumnya.
Namun, kesadaran tak selalu berarti akses. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 yang dikutip oleh Kompas menemukan bahwa meskipun Gen Z paling sadar dengan gejala gangguan mental, mereka jarang mencari bantuan profesional, yakni hanya sekitar 10% yang pergi ke bantuan profesional. Alasannya seperti biaya terapi mahal, stigma masih kuat, dan layanan kesehatan mental tidak merata. Banyak yang akhirnya memilih self-help atau self-diagnosis karena itu satu-satunya jalan yang realistis.
Baca juga: Cuma Temen, HTS, Situationship sampai FWB: Kenapa Hubungan Gen Z Penuh Label?
Bertahan Hidup, Tapi Tetap Manusia
Di sisi lain, ekspektasi sosial juga menekan. Media sosial menciptakan standar “hidup ideal” yang membuat banyak orang merasa gagal. Mereka harus produktif, berprestasi, dan tetap terlihat bahagia—sekalipun sedang lelah. Hasilnya, muncul fenomena seperti sad productivity—tetap bekerja meski sedang sedih atau lelah, sekadar agar tidak sempat memikirkan betapa hancurnya batin sendiri—dan kelelahan bertahan hidup.
Kesadaran Gen Z terhadap kesehatan mental, dengan segala paradoksnya, mungkin lahir dari keinginan untuk berhenti mengulang luka. Mereka ingin menciptakan ruang aman, sekecil apapun, untuk bernapas dan merasa cukup manusia.
Di negara berkembang seperti Indonesia, mungkin tidak semua orang punya akses ke psikolog, tapi mereka punya kesadaran baru bahwa “waras” bukan hadiah, melainkan perjuangan. Bahwa kesehatan mental bukan cuma milik mereka yang punya waktu, tapi juga mereka yang bertahan di tengah ketidakpastian. Karena di zaman sekarang, bisa jujur mengakui bahwa kita tidak baik-baik saja saja sudah bentuk keberanian paling besar.
Referensi:
- GoodStats. (2024, April 30). Uang cepat habis? Ini dia proporsi pengeluaran bulanan Gen Z. https://goodstats.id/article/uang-cepat-habis-ini-dia-proporsi-pengeluaran-bulanan-gen-z-zbvEH
- GoodStats. (2023, Juli 18). Survei Jakpat: 59% Gen Z akui merasa alami gangguan kesehatan mental. https://goodstats.id/article/survei-jakpat-59-gen-z-akui-merasa-alami-gangguan-kesehatan-mental-hMGTl
- IDN Research Institute. (2025). Indonesia Millennial & Gen Z Report 2025. https://cdn.idntimes.com/content-documents/indonesia-millennial-genz-report-2025.pdf
- Kompas.com. (2024, Agustus 29). Menurut survei, Gen Z paling banyak mengalami gangguan mental. https://lifestyle.kompas.com/read/2024/08/29/140759520/menurut-survei-gen-z-paling-banyak-mengalami-gangguan-mental
- McKinsey Health Institute. (2023). Gen Z mental health: The impact of tech and social media. https://www.mckinsey.com/mhi/our-insights/gen-z-mental-health-the-impact-of-tech-and-social-media
- Sun Life Indonesia. (2025). Sun Life Indonesia financial resilience index reveals Gen Z. https://www.sunlife.co.id/en/about-us/newsroom/press-releases/2025/sun-life-indonesia-financial-resilience-index-reveals-gen-z
- Journal of Adolescent Health. (2022). Global trends in adolescent mental health. https://www.jahonline.org/article/S1054-139X%2822%2900916-8/fulltext
