Home » News » Stigma Nakal, Bagi Perempuan yang Pulang Malam

Stigma Nakal, Bagi Perempuan yang Pulang Malam

Yuni Camelia Putri

News

Bincangperempuan.com- Di tengah perdebatan tentang kesetaraan gender dan peran perempuan dalam masyarakat modern, masih banyak stigma dan stereotip yang melekat pada perempuan. Salah satu stigma yang masih bertahan adalah persepsi bahwa jika seorang perempuan pulang malam, itu berarti dia ‘nakal’ atau berperilaku tidak pantas. 

Padahal tidak ada yang salah dengan perempuan pulang malam. Stigma yang melekat di masyarakat ini terus dikaitkan dengan beragam aspek. Jika terus begini, bagaimana perempuan mendapatkan kebebasannya? Padahal setiap orang memiliki hak untuk pergi dan pulang kapanpun ia mau. Hal ini berlaku bagi perempuan dan laki-laki. 

Aktivitas pulang di malam hari merupakan urusan pribadi yang tidak bisa seenaknya diatur publik. Terkadang keluarga tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun lagi-lagi masyarakat atau tetangga justru bersikap sebaliknya. Sehingga menimbulkan banyak prasangka dan cenderung membebani kehidupan perempuan

Kata ‘nakal’ yang dilekatkan pada perempuan yang pulang di malam hari terbentuk karena nilai moral yang dianut oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan perempuan masih dipandang sebagai objek yang tabu sehingga perempuan yang pulang larut malam dianggap sebagai hal yang tidak wajar, melanggar norma adat, dan lainnya

Gail Pheterson (1994) dalam artikelnya yang berjudul The Whore Stigma: Female Dishonor and Male Unworthuness membahas tentang bagaimana masyarakat memandang perempuan yang pulang larut malam atau beraktivitas sendiran di malam hari dikaitkan dengan pekerja seks komersial. Hal ini sejalan dengan julukan “Kupu-Kupu Malam” yang diberikan masyarakat Indonesia kepada pekerja seks komersial.

Baca juga: Rollercoaster Kepemimpinan Perempuan di Media – Mendobrak Stigma, Mendorong Kuasa

Bagi perempuan Jawa, mereka tentu saja sudah tidak asing dengan kalimat “anak perawan jangan pulang larut malam”. Hal ini dikarenakan, pulang malam masih dikaitkan dengan hal yang saru oleh masyarakat Jawa. Padahal, terkadang urusan yang mendesak dapat terjadi kapan saja tanpa adanya batasan waktu. Hal ini akan semakin diperparah jika perempuan menggunakan atribut agama seperti kerudung. “Kamu tuh pakai kerudung, kok malah pulang malam! Malu sama tetangga, nanti kamu dikira ‘perempuan nggak bener’!”.

Lantas bagaimana dengan laki-laki? Ya, aki-laki yang pulang malam dianggap wajar oleh masyarakat. Hal ini mengambarkan stigma masyarakat yang lebih mempercayai laki-laki daripada perempuan.

Pemikiran masyarakat yang mengaitkan perempuan pulang di malam hari dengan kata ‘nakal’ masih sulit untuk diatasi. Meskipun sudah banyak edukasi yang disampaikan, pemikiran ini tetap dipertahankan dengan alasan moral yang diajarkan oleh nilai adat atau agama. Mereka yang pulang kerja di malam hari juga terus diremehkan dan dianggap buruk oleh masyarakat. Bukannya beristirahat, perempuan yang pulang kerja di malam hari justru harus menerima julukan “perempuan panggilan” oleh sekitarnya.

Selain ‘perempuan nakal’, perempuan yang pulang di malam hari kerap kali dipertanyakan keperawanannya oleh masyarakat. ‘Perempuan nakal’ dan ‘sudah tidak perawan’, seolah menjadi dua hal yang sejalan dan pantas dilabelkan kepada perempuan yang pulang di malam hari. Kondisi ini terkesan menyebalkan bagi perempuan, akan tetapi tidak mudah untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap nilai moral yang bersifat turun temurun.

Stigma patriarki 

Stigma patriarki terhadap perempuan yang pulang malam adalah hasil dari sistem nilai yang masih masih ada di banyak masyarakat di seluruh dunia. Patriarki adalah sistem sosial yang memberikan kekuasaan dan kontrol kepada pria, sementara membatasi perempuan dalam berbagai cara. Salah satu aspek dari patriarki ini adalah pengawasan ketat terhadap perilaku perempuan, terutama ketika mereka melanggar norma-norma tradisional yang telah ditetapkan oleh masyarakat yang dipengaruhi oleh pandangan gender yang konservatif.

Stigma terhadap perempuan yang pulang malam dapat dijelaskan oleh beberapa faktor. Pertama, masyarakat sering kali menilai perempuan berdasarkan double standard yang tidak adil. Ketika seorang pria pulang larut malam, dia mungkin dianggap sebagai ‘jantan’ atau ‘cool’, sementara seorang perempuan yang melakukan hal yang sama akan dianggap ‘nakal’ atau ‘berani’. Ini mencerminkan pandangan gender yang tidak setara, di mana perempuan diharapkan untuk mematuhi peran dan norma yang telah ditetapkan oleh masyarakat.

Kedua, stigma ini juga bisa berkaitan dengan kontrol sosial yang digunakan untuk mempertahankan status quo patriarki. Ketika perempuan merasa terbebani oleh stigma ini, mereka cenderung lebih patuh terhadap aturan sosial yang ada. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk menjaga kendali terhadap perempuan dan menghambat kemajuan mereka dalam berbagai bidang kehidupan.

Dampak Stigma Terhadap Perempuan

Stigma patriarki terhadap perempuan yang pulang malam memiliki dampak yang sangat negatif. Pertama-tama, ini menciptakan tekanan psikologis pada perempuan yang merasa harus mematuhi norma-norma yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Mereka mungkin merasa bersalah atau malu ketika melakukan sesuatu yang dianggap tidak pantas, bahkan jika itu adalah pilihan yang sah dan sah-sah saja.

Baca juga: Menanti Keadilan Bagi Hantu-Hantu Perempuan

Selain itu, stigma ini juga dapat membatasi kebebasan perempuan untuk menjalani kehidupan yang mereka inginkan. Mereka mungkin merasa terbatas dalam melakukan aktivitas sosial, bekerja lembur, atau mengejar minat dan hobi mereka karena takut akan dicap ‘nakal’. Ini menghambat kemajuan perempuan dalam berbagai bidang, termasuk profesional dan sosial.

Dampak stigma terhadap masyarakat

Selain dampak negatif pada perempuan, stigma patriarki terhadap perempuan yang pulang malam juga merugikan masyarakat secara keseluruhan. Pertama, ini menciptakan ketidaksetaraan gender yang berkelanjutan dan membatasi potensi perempuan. Masyarakat yang membatasi perempuan dalam ruang gerak mereka akan kehilangan kontribusi berharga yang bisa diberikan oleh perempuan dalam berbagai bidang.

Kedua, stigma ini juga dapat memicu ketidakamanan dan ketegangan dalam masyarakat. Ketika perempuan merasa diawasi atau dicap ‘nakal’ hanya karena pulang malam, hal ini dapat menciptakan ketidakharmonisan dalam hubungan sosial dan keluarga. Stigma ini juga dapat memicu tindakan diskriminasi atau kekerasan terhadap perempuan, yang pada gilirannya merugikan seluruh masyarakat.

Stigma patriarki terhadap perempuan yang pulang malam adalah refleksi dari ketidaksetaraan gender yang masih ada di banyak masyarakat. Stigma ini tidak hanya merugikan perempuan dengan membatasi kebebasan dan kemajuan mereka, tetapi juga merugikan masyarakat secara keseluruhan dengan menciptakan ketidaksetaraan dan ketegangan sosial. Penting bagi masyarakat untuk merenungkan dan memerangi stigma ini agar dapat menciptakan lingkungan yang lebih adil dan inklusif bagi semua individu, tanpa memandang jenis kelamin mereka. Hanya dengan melawan stigma patriarki ini kita dapat mencapai masyarakat yang lebih setara dan berkeadilan. (**)

Sumber:

  • Ge Tilotama, 2017. “Perempuan Pulang Malam Bukan Perempuan ‘Nakal’”, dalam Magdalene
  • Muhammad Hotip, 2021. “Perempuan Jangan Pulang Larut Malam, Laki-Laki Bebas?”, dalam Beritaborneo.id

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

gerakan perempuan, Stigma patriarki, stigma perempuan pulang malam

Artikel Lainnya

Negara Anggota dan Mitra ASEAN Tegaskan Komitmen Implementasi Rencana Aksi Regional : Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan

Tren Ani-ani atau sugar baby

“Ani-ani” dan Keresahan Masyarakat atas Kesuksesan Perempuan

Komitmen Jepang Meningkatkan Kepemimpinan Perempuan dan Kesetaraan Gender

Leave a Comment