Dubai Resmi Ganti Istilah Ibu Rumah Tangga Jadi Generations Shaper

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Tahukah kamu, istilah ibu rumah tangga atau housewife di Dubai kini diganti menjadi Generations Shaper (Pembentuk Generasi) tepat pada peringatan Hari Ibu di Dubai pada 21 Maret 2026 lalu. Langkah ini dikemukakan oleh Sheikh Hamdan bin Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Putra Mahkota Dubai, yang menegaskan betapa krusialnya peran seorang ibu dalam merawat dan membentuk wajah masyarakat di masa depan.

Dalam pengumumannya di momen Hari Ibu tersebut, Sheikh Hamdan menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus penghormatan setinggi-tingginya bagi seluruh ibu. Beliau menekankan bahwa ibu adalah “sekolah pertama” bagi anak-anak—tempat utama di mana nilai tanggung jawab, rasa memiliki, integritas, dan karakter bangsa ditanamkan sejak dini. 

Atas dasar pemikiran tersebut, Sheikh Hamdan secara resmi menginstruksikan Community Development Authority (CDA) Dubai untuk mengadopsi gelar Generations Shaper guna menggantikan kata housewife dalam seluruh dokumen resmi pemerintahan. Bagi Sheikh Hamdan, peran yang dijalani para ibu sejatinya begitu besar dan mendalam hingga tidak ada satu pun gelar atau susunan kata yang benar-benar sanggup mewakilinya secara utuh.

Baca juga: Kekerasan yang Tak Meninggalkan Lebam: Wajah Kekerasan Ekonomi dalam Rumah Tangga

Bahasa dan Cara Menilai Kerja Perawatan

Keputusan ini sekilas mungkin tampak seperti sekadar perubahan diksi biasa di atas kertas. Namun, bahasa bukanlah alat komunikasi pasif semata; bahasa adalah cermin dari cara berpikir (framework) suatu masyarakat dalam menentukan nilai serta martabat sebuah peran.

Selama berdekade-dekade, istilah ibu rumah tangga (housewife) sering kali terjebak dalam stereotip yang mereduksi peran perempuan. Dalam sistem administratif sipil maupun indeks ekonomi global, status ini tidak jarang disepadankan dengan posisi “tidak bekerja” (unemployed). Padahal, apa yang dijalankan seorang ibu di rumah setiap harinya adalah unpaid care work atau kerja perawatan tak berbayar. Setiap hari selalu ada aktivitas kompleks yang menyerap energi fisik, emosional, dan waktu secara penuh tanpa batasan jam kerja yang pasti.

Ketika Dubai mengubah istilah resmi ini menjadi Generations Shaper, narasinya bergeser. Perempuan tidak lagi didefinisikan secara sempit lewat ruang domestik tempat ia beraktivitas (rumah), tetapi lewat dampak sosial-ekonomis jangka panjang yaitu apa yang dihasilkannya manusia-manusia yang membentuk masa depan. Pergeseran ini secara otomatis memindahkan kerja perawatan dari sekadar “urusan dapur” menjadi bagian inti dari pembangunan modal manusia.

Rekam Jejak UEA: Bahasa Sebagai Alat Kebijakan Sosial

Melansir dari Adgully, kebijakan merombak kebahasaan demi mendorong perubahan sosial bukan hal baru bagi Uni Emirat Arab (UEA). Pada tahun 2017, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum pernah melakukan hal serupa dengan mengganti istilah “penyandang kebutuhan khusus” (people with special needs*) menjadi People of Determination (penyandang disabilitas).

Mulanya, istilah People of Determination mungkin terkesan seperti eufemisme. Tapi, sejarah mencatat bahwa pergeseran diksi tersebut kemudian berhasil melahirkan perombakan struktural di lapangan. Pemerintah UEA merevisi kebijakan ketenagakerjaan agar lebih inklusif, merenovasi fasilitas publik agar ramah disabilitas, hingga akhirnya menjadi tuan rumah Special Olympics World Games 2019 di Abu Dhabi.

Pengalaman tersebut menunjukkan fenomena language as policy—di mana perubahan bahasa melayani fungsi awal untuk menggeser pola pikir kelembagaan. Ketika sebuah dokumen negara resmi mengubah nama sebuah peran, seluruh institusi birokrasi dipaksa untuk memperbarui cara mereka melayani, memandang, dan merancang kebijakan bagi kelompok masyarakat tersebut.

Year of the Family’ dan Kerja Perawatan yang Tak Terlihat

Kebijakan baru ini juga berkelindan erat dengan penetapan tahun 2026 sebagai Year of the Family (Tahun Keluarga) di UEA. Kerangka kebijakan ini menempatkan ketahanan keluarga dan kohesi sosial sebagai pilar utama stabilitas serta pertumbuhan nasional jangka panjang.

Di sinilah pentingnya melihat posisi care work secara lebih jernih. Analisis ekonomi konvensional masih sering abai bahwa sektor publik dan industri komersial tidak akan pernah bisa beroperasi tanpa adanya kerja perawatan di ruang domestik. Aktivitas memasak, mengasuh, mendampingi tumbuh kembang anak, hingga menjaga kesehatan mental anggota keluarga adalah “bahan bakar” utama keberlanjutan roda masyarakat. Tanpa para Generations Shaper yang bekerja di balik layar, tidak akan ada tenaga kerja profesional, akademisi, maupun pemimpin yang sanggup menggerakkan roda ekonomi negara.

Baca juga: “Aku Nggak Bisa, Kamu Kan Lebih Jago”: Mengenal Weaponized Incompetence dalam Rumah Tangga

Antara Validasi Simbolis dan Dukungan Nyata

Meski demikian, apakah sekadar mengganti julukan di lembar dokumen resmi sudah cukup untuk memuliakan kerja perawatan yang berat itu? Pemberian gelar megah seperti Generations Shaper memang memberikan validasi emosional. 

Namun, jangan sampai menjadi jebakan romantisasi. Tanpa adanya ekosistem pendukung yang konkret, julukan yang terdengar sakral ini justru berpotensi menjadi beban moral baru bagi para ibu untuk selalu dituntut tampil sempurna tanpa ruang untuk lelah atau keliru.

Ujian sesungguhnya dari kebijakan Dubai ini adalah bagaimana bahasa baru ini ditransformasikan menjadi perlindungan struktural yang riil. Pengakuan sebagai “Pembentuk Generasi” idealnya diiringi oleh jaminan sosial domestik, skema perlindungan kesehatan mental, hingga kebijakan yang mengurangi beban ganda pengasuhan. Kerja perawatan tidak cuma butuh disanjung dengan nama indah, tetapi juga butuh dijamin keadilan dan kesejahteraannya.

Pada akhirnya langkah Dubai memperlihatkan bagaimana sebuah negara secara berani bereksperimen dengan pembentukan narasi sebagai alat tata kelola pemerintahan. Dengan membuang kata housewife dan memilih Generations Shaper, Dubai sedang mengirim sinyal kuat ke panggung global bahwa kerja-kerja perawatan di ruang domestik memiliki bobot strategis yang setara dengan pembangunan nasional.

Sebab mengubah cara kita menamai sebuah peran adalah langkah awal yang fundamental untuk merubah cara kita menghargai dan memperlakukan manusia di dalamnya.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Kenapa Tarot Semakin Banyak Diminati Anak Muda?

Dulu Ibu Rumah Tangga, Kini Perempuan Dayun Mengelola 25 Hektare Hutan Sosial

Bertukar Akun Bukti Cinta atau Pelanggaran Privasi

Bertukar Akun: Bukti Cinta atau Pelanggaran Privasi?

Leave a Comment