Bincangperempuan.com– Sepak bola merupakan salah satu olahraga paling populer di Indonesia. Namun hingga kini, dunia sepak bola masih didominasi oleh laki-laki. Meski demikian, partisipasi perempuan dalam olahraga ini terus menunjukkan perkembangan.
Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI), yang berdiri pada 2017, mencatat terdapat 171 tim sepak bola perempuan yang tersebar di berbagai daerah. Angka ini menunjukkan semakin meningkatnya minat dan keterlibatan perempuan dalam sepak bola.
Di balik perkembangan tersebut, perempuan yang terlibat dalam olahraga ini masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari keterbatasan akses terhadap pelatihan berkualitas, kurangnya pengakuan, hingga risiko kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan olahraga.
Hal ini disampaikan Irjen Pol (Purn) Desy Andriani, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), dalam diskusi komunitas penutup kampanye “Breaking Barriers, Building Future #KickOutGBV” di Jakarta pada 6 Maret 2026. Diskusi tersebut diselenggarakan oleh Kedutaan Inggris di Jakarta bekerja sama dengan Magdalene dan Inspire Indonesia.
Desy menegaskan bahwa kekerasan berbasis gender terhadap perempuan dan anak merupakan persoalan global yang memerlukan solusi inovatif dan inklusif.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan teknologi, serta pembaruan pendekatan secara berkelanjutan sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan bermartabat bagi perempuan dan anak.
“Kami berharap pemerintah, khususnya di bidang olahraga, asosiasi sepak bola, serta para pemangku kepentingan lainnya terus berkomitmen melindungi perempuan dan anak. Hal ini perlu diwujudkan melalui pembangunan ekosistem yang berperspektif perlindungan sejak proses perekrutan, pelatihan, hingga pertandingan, serta dengan memastikan sarana dan prasarana yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan,” ujarnya.
Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Rr Sri Agustini, menambahkan bahwa meningkatnya kesadaran publik mengenai pentingnya kesetaraan gender dalam sepak bola dapat mendorong terciptanya ruang olahraga yang aman, inklusif, dan diakui keberadaannya.
Dengan kondisi tersebut, perempuan memiliki kesempatan yang lebih setara untuk berpartisipasi, mengembangkan bakat, meraih prestasi, sekaligus mengambil peran kepemimpinan dalam dunia sepak bola.
“Komnas Perempuan mendorong seluruh pemangku kepentingan—mulai dari pemerintah, federasi sepak bola, komunitas, media, hingga masyarakat luas—untuk bersama-sama memastikan bahwa sepak bola perempuan di Indonesia diakui serta bebas dari kekerasan berbasis gender dan diskriminasi,” kata Sri Agustini.

Kampanye #KickOutGBV
Kampanye “Breaking Barriers, Building Future #KickOutGBV” juga menjadi bagian dari peringatan Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Dominic Jermey, mengatakan bahwa sepak bola—sebagai olahraga yang sangat digemari di Indonesia maupun Inggris—memiliki potensi besar untuk menantang stereotip gender, mendorong kepemimpinan perempuan, serta menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.
“Acara ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga seruan untuk bertindak. Inggris menempatkan perempuan dan anak perempuan di jantung kebijakan kami. Melalui Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia yang diluncurkan awal tahun ini oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Keir Starmer, kami bangga dapat bekerja sama dengan Indonesia untuk memajukan kesetaraan serta mengatasi kekerasan berbasis gender,” ujarnya.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, peserta juga mengikuti Pledge Ball Ceremony, yaitu deklarasi komitmen bersama dari berbagai pihak—mulai dari institusi pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas olahraga, pendidik, hingga pemimpin muda—untuk mempromosikan kesetaraan gender di bidang masing-masing.
Melalui “Bola Komitmen” tersebut, para pihak menegaskan tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan saling menghormati. Lingkungan yang memungkinkan perempuan dan anak perempuan berpartisipasi dengan percaya diri, menantang norma yang merugikan, serta mengembangkan potensi mereka baik di bidang olahraga maupun kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Watch Out, Di Balik Serunya Roblox, Predator Digital Mengintai Anak
Diskusi komunitas ini menghadirkan para ahli, pendidik, pelajar, dan komunitas olahraga untuk membahas bagaimana sepak bola dapat menjadi medium efektif dalam mempromosikan kesetaraan gender sekaligus mencegah kekerasan berbasis gender.
Sebelumnya, melalui kolaborasi Kedutaan Inggris dan Inspire Indonesia dalam kampanye #KickOutGBV, enam klinik sepak bola telah diselenggarakan di sejumlah daerah di Indonesia. Kegiatan ini melibatkan sekitar 600 remaja perempuan dan laki-laki.
Selain pelatihan teknik sepak bola, setiap sesi juga memberikan edukasi mengenai kekerasan berbasis gender. Melalui tema “Breaking Barriers, Building Future” (Mendobrak Hambatan, Membangun Masa Depan), kampanye ini bertujuan mengatasi hambatan sosial dan budaya yang membatasi perempuan dan anak perempuan, sekaligus mendorong terciptanya ruang olahraga yang lebih aman dan inklusif.
