Bincangperempuan.com- Tanggal kembar selalu jadi momen yang ditunggu banyak orang. Marketplace berlomba-lomba menawarkan diskon besar-besaran, voucher potongan harga, hingga gratis ongkos kirim. Notifikasi berdatangan, keranjang belanja cepat terisi, dan checkout terasa seperti kemenangan kecil.
Proses mencari barang, membandingkan harga di berbagai toko, membaca ulasan, hingga akhirnya menemukan produk yang “paling masuk akal” sering kali terasa menyenangkan. Ada sensasi puas ketika barang sudah masuk keranjang dan tinggal dibayar. Perasaan itu berlanjut saat paket datang dan kita tak sabar melakukan unboxing.
Namun, beberapa waktu setelahnya, muncul pertanyaan seperti “sebenarnya aku butuh ini, nggak sih? Atau, “kok barangnya nggak seperti yang aku bayangkan?” akibatnya rasa senang perlahan bergeser jadi penyesalan—entah karena kualitas tak sesuai ekspektasi, atau karena kita sadar uang itu seharusnya bisa dipakai untuk hal lain.
Baca juga: Waspada Black Hat Marketing: Ketika Situs Negara Disusupi Judi Online
Belanja Online: Dopamin Dulu, Logika Belakangan
Belanja, termasuk belanja online, bukan sekadar aktivitas ekonomi. Kate Cummins, PsyD, psikolog klinis berlisensi di Amerika Serikat mengatakan kepada Self Magazine, bahwa saat seseorang berbelanja, pusat penghargaan di otak akan aktif. Proses ini memicu pelepasan dopamin—zat kimia yang membuat kita merasa senang. Inilah yang menjelaskan mengapa berpindah dari satu halaman ke halaman lain di aplikasi belanja bisa terasa begitu mengasyikkan.
Masalahnya, sensasi menyenangkan itu biasanya hanya bertahan singkat. Setelah dopamin mereda, yang tersisa justru rasa bersalah, penyesalan, dan kekosongan emosional. Lalu, kenapa kebiasaan belanja online justru membuat kita lelah bukan hanya secara finansial, tapi juga mental?
Mengapa Kita Menyesal Setelah Belanja Online?
1. Terlalu Banyak Pilihan Membuat Kita Kewalahan
Di marketplace, pilihan seolah tak ada habisnya. Ada ribuan merek, toko, dan produk yang bisa dibandingkan. Kita dibanjiri barang dan juga informasi seperti diskon, promosi, ulasan pelanggan, detail bahan, hingga tabel ukuran. Dan walau pun informasi tentang suatu produk melimpah, kita tetap tidak bisa menyentuh, atau mencoba barang tersebut secara langsung.
Fenomena ini dikenal sebagai paradox of choice. Diedre Popovich, PhD, profesor pemasaran di Texas Tech University, menjelaskan bahwa konsumen memang menyukai banyak pilihan, tetapi ketika pilihannya terlalu banyak, justru muncul kelumpuhan dalam mengambil keputusan. Kita jadi ragu, cemas salah pilih, dan akhirnya tidak benar-benar puas dengan apa pun yang diputuskan.
2. Ekspektasi Tak Sejalan dengan Realita
Foto produk yang estetik, pencahayaan sempurna, model yang terlihat ideal akan membangun ekspektasi tinggi. Saat barang datang, realitanya malah berbeda misalnya bahan lebih tipis, warna melenceng, ukuran tidak pas, atau kualitas jauh dari bayangan.
Kesenjangan antara ekspektasi dan realita inilah yang kerap memicu penyesalan. Proses pengembalian barang memang tersedia, tetapi sering kali melelahkan dan menyita waktu. Pada akhirnya, kita dihadapkan pada pilihan untuk menerima barang yang mengecewakan atau menghabiskan energi ekstra demi refund yang belum tentu sepadan.
3. Waktu yang Terkuras Tanpa Disadari
Secara teori, belanja online seharusnya lebih efisien. Tidak perlu keluar rumah atau berpindah toko. Namun dalam praktiknya, window shopping digital bisa berubah jadi aktivitas yang menyedot waktu.
Hal ini berkaitan dengan kondisi psikologis yang disebut flow, yaitu saat seseorang begitu tenggelam dalam suatu aktivitas hingga lupa waktu. Ketika kita scroll tanpa henti, waktu terasa berlalu begitu saja. Masalahnya, setelah berjam-jam menatap layar, hasilnya sering kali tidak sebanding entah tidak jadi membeli apa pun, atau justru membeli barang yang sebenarnya tidak direncanakan.
4. Tekanan untuk Menjadi Konsumen yang Bertanggung Jawab
Budaya belanja juga sedang berubah. Isu keberlanjutan dan dampak lingkungan dari gaya hidup konsumtif semakin disorot. Muncul tren seperti underconsumption core atau konten media sosial yang mendorong belanja barang bekas atau produk yang ramah lingkungan.
Kesadaran ini tentu positif, tetapi di sisi lain menambah tekanan. Kita dipaksa menimbang banyak hal sekaligus dari harga, kualitas, etika produksi, hingga dampak lingkungan. Sebuah studi tahun 2017 dalam Journal of Business Ethics bahkan menemukan bahwa pengetahuan tentang keberlanjutan bisa memicu dilema dan kebuntuan dalam pengambilan keputusan. Alih-alih merasa bijak, kita justru makin stres.
Baca juga: Apa Itu Doom Spending? Benarkah Anak Muda Gagal Menabung Karena Foya-foya?
Agar Belanja Online Tak Berakhir Penyesalan
Kate Cummins menyebut bahwa belanja online akan terasa lebih ringan jika kita tahu sejak awal apa yang ingin dicari. Ketika tujuan belanja sudah jelas, perhatian tidak mudah teralihkan oleh barang-barang lain yang sekilas terlihat menarik, tetapi sebenarnya tidak dibutuhkan. Fokus pada satu kebutuhan membuat proses memilih terasa lebih singkat dan tidak melelahkan.
Memberi batas waktu juga bisa menjadi cara sederhana untuk menghindari kebiasaan scroll tanpa arah. Menentukan waktu khusus untuk memilih, atau menunda checkout ke hari tertentu, memberi jarak antara keinginan dan keputusan membeli. Jeda ini sering kali cukup untuk membuat kita berpikir ulang: apakah barang tersebut memang perlu, atau hanya muncul karena tergoda suasana diskon. Dengan cara ini, belanja online tidak lagi menyita terlalu banyak waktu dan tidak berubah menjadi aktivitas yang menguras energi.
Penyesalan setelah belanja online muncul bukan karena kita ceroboh, tetapi karena proses belanja digital memang mendorong keputusan impulsif. Menyadari cara kerja ini penting agar kita bisa lebih sadar saat berbelanja. Dengan fokus pada kebutuhan dan memberi jeda sebelum checkout, belanja online bisa menjadi lebih mudah dan menyenangkan.
Referensi:
- Kurien, R., Paila, A. R., & Nagendra, A. (2014). Application of paralysis analysis syndrome in customer decision making. Procedia Economics and Finance, 11, 323–334. https://doi.org/10.1016/S2212-5671(14)00200-7
- Longo, C., Shankar, A., & Nuttall, P. (2019). “It’s not easy living a sustainable lifestyle”: How greater knowledge leads to dilemmas, tensions and paralysis. Journal of Business Ethics, 154(3), 759–779. https://doi.org/10.1007/s10551-016-3422-1
- Mazzo, L., & Ryu, J. (2025, November 28). 3 reasons online shopping makes you feel bad, according to psychologists. SELF. https://www.self.com/story/online-shopping-bad-mood
