Bincangperempuan.com- B’Pers, pernahkah kamu merasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri atau memilih istirahat? Padahal tidak ada yang marah, apalagi protes dengan keputusanmu. Tapi entah kenapa, rasanya seperti melakukan sebuah kesalahan.
Ternyata rasa bersalah ini sering muncul bukan karena sejak lama perempuan dibiasakan untuk mendahulukan orang lain. Dari hal kecil seperti diminta “mengalah dulu”, sampai hal besar seperti merasa wajib selalu ada, selalu mengerti, dan selalu kuat. Ketika memilih diri sendiri, tubuh memang diam, tapi pikiran ribut.
Fenomena ini bukan soal perempuan yang terlalu sensitif. Banyak perempuan mengalami hal yang serupa, di berbagai usia dan peran—entah sebagai anak, pasangan, ibu, atau pekerja. Lantas kenapa memprioritaskan diri sendiri terasa seperti membuat kesalahan?
Baca juga: Krisis Ekologi, Krisis Reproduksi: Darurat yang Menyasar Perempuan
Perempuan Lebih Sering Merasa Bersalah
Sejumlah penelitian psikologi menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih sering merasakan rasa bersalah dibandingkan laki-laki. Salah satu riset besar yang menganalisis ratusan studi menemukan bahwa perempuan, secara umum, melaporkan tingkat rasa bersalah dan rasa malu yang sedikit lebih tinggi. Perbedaan ini memang tidak ekstrem, tetapi konsisten muncul dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari.
Perbedaan tersebut bukan berarti perempuan “lebih emosional” secara alami. Justru, penelitian tersebut menegaskan bahwa anggapan umum tentang perempuan sebagai sosok yang terlalu emosional tidak sepenuhnya benar. Rasa bersalah yang lebih sering dirasakan perempuan berkaitan erat dengan norma sosial dan peran gender yang dilekatkan sejak lama.
Dalam kehidupan keluarga, pola ini terlihat lebih jelas. Perempuan—terutama yang telah menikah atau memiliki anak—sering dihadapkan pada tuntutan untuk menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Ketika pekerjaan atau kebutuhan pribadi dianggap mengganggu peran tersebut, rasa bersalah pun muncul.
Baca juga: Gerakan Perempuan Serawai: Dari Perlawanan Menjadi Kemenangan
Perempuan Lebih Emosional? Lihat dulu Sebabnya!
Sebuah penelitian tentang orang tua bekerja menunjukkan bahwa ibu, rata-rata, merasa lebih bersalah dibandingkan ayah ketika pekerjaan menyita waktu keluarga. Sementara itu, ayah cenderung tidak merasakan tekanan emosional yang sama ketika mengambil keputusan serupa. Perbedaan ini berkaitan dengan kuatnya pandangan sosial yang menganggap perawatan keluarga sebagai tanggung jawab utama perempuan.
Semakin kuat seseorang menyerap pandangan bahwa perempuan harus selalu mendahulukan keluarga, semakin besar pula rasa bersalah yang muncul saat ia bekerja lebih lama atau meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Dengan kata lain, rasa bersalah ini bukan muncul begitu saja, melainkan dibentuk oleh ekspektasi sosial yang terus diulang.
Struktur sosial yang masih patriarki turut memperkuat kondisi ini. Peran perempuan sering kali direkatkan pada ranah domestik dan kerja-kerja perawatan, sehingga ketika perempuan mengambil jeda untuk dirinya sendiri—misalnya sekadar menikmati waktu luang—pikiran tentang keluarga segera muncul. Kekhawatiran seperti “bagaimana anakku nanti?” atau “apakah pasangan bisa mengurus?” kerap menghantui.
Tak heran jika perempuan lebih sering merasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri, terutama ketika hal tersebut bersinggungan dengan urusan keluarga atau pekerjaan.
Data lain menunjukkan bahwa sekitar 37 persen perempuan mengaku merasa bersalah ketika meluangkan waktu untuk merawat diri, dibandingkan 30 persen laki-laki. Perempuan yang memiliki anak bahkan jauh lebih rentan mengalami perasaan ini. Mereka berkali-kali lebih mungkin merasa bersalah ketika kebutuhan pribadinya tidak terpenuhi, dibandingkan perempuan tanpa anak. Hal ini kembali berkaitan dengan harapan sosial yang mendorong perempuan, khususnya ibu, untuk selalu menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri.
Padahal, memprioritaskan diri bukanlah bentuk kemewahan atau sikap mementingkan diri sendiri. Merawat diri merupakan kebutuhan dasar agar seseorang tetap sehat, seimbang, dan dapat menjalani peran sehari-hari dengan baik dalam jangka panjang. Namun, karena peran perawatan selama ini dilekatkan pada perempuan, keputusan untuk berhenti sejenak kerap disertai rasa bersalah yang tidak dialami secara setara oleh laki-laki.
Dalam beberapa waktu terakhir, media sosial dipenuhi konten yang mengajak perempuan untuk memprioritaskan diri sendiri. Mulai dari video jalan-jalan sendirian, ngopi di kafe, hingga kutipan tentang self-love. Ajakan ini kerap dianggap berlebihan atau sekadar tren, padahal ia lahir dari pengalaman kolektif perempuan yang terbiasa mengalah dan mendahulukan orang lain, bahkan ketika tubuh dan pikirannya sudah lelah.
Memberi waktu untuk diri sendiri bukanlah sikap lebay, melainkan bentuk kesadaran akan kebutuhan diri. Kampanye memprioritaskan diri hadir untuk menegaskan bahwa rasa bersalah yang muncul saat perempuan memilih dirinya sendiri bukan sesuatu yang alami, melainkan hasil dari tuntutan sosial yang terus direproduksi.
Melansir Workbuddy, salah satu cara yang dapat membantu perempuan mengurangi rasa bersalah tersebut adalah dengan melatih self-compassion, yakni sikap lebih ramah dan tidak terlalu keras pada diri sendiri. Intinya memperlakukan diri dengan baik sama halnya seperti saat menghadapi teman yang sedang kelelahan, serta menyadari bahwa setiap orang memiliki batas.
Dalam praktik sehari-hari, langkah kecil sudah cukup berarti. Istirahat tidak perlu selalu dimaknai sebagai kemalasan, melainkan bagian dari menjaga diri agar tidak kelelahan. Menetapkan batasan, seperti berani menolak hal-hal yang menguras energi, juga merupakan bentuk perawatan diri. Begitu pula kebiasaan sederhana seperti menarik napas sejenak, menikmati minuman dengan tenang, atau meluangkan lima menit untuk diri sendiri.
Karena itu, menyayangi diri sendiri tidak seharusnya disertai rasa bersalah. Memilih diri sendiri bukan berarti mengabaikan orang lain, melainkan memastikan perempuan tetap memiliki ruang untuk bernapas, pulih, dan menjalani hidup dengan lebih utuh.
Referensi:
- Else-Quest, N. M., Higgins, A., Allison, C., & Morton, L. C. (2012). Gender differences in self-conscious emotional experience: a meta-analysis. Psychological bulletin, 138(5), 947–981. https://doi.org/10.1037/a0027930
- Aarntzen, L., Derks, B., van Steenbergen, E., & van der Lippe, T. (2023). When work-family guilt becomes a women’s issue: Internalized gender stereotypes predict high guilt in working mothers but low guilt in working fathers. The British journal of social psychology, 62(1), 12–29. https://doi.org/10.1111/bjso.12575
- Workbuddy. (2025, March 5). Self-compassion in a busy world: How to prioritise yourself without guilt. https://www.work-buddy.com/blog/self-compassion-womens-day
