Bincangperempuan.com- Upaya pelestarian warisan budaya daerah terus dilakukan di Kabupaten Mukomuko. Salah satu langkah penting yang tengah dilakukan adalah pendokumentasian karya dan perjalanan hidup maestro Tari Gandai, Siti Zahara. Program yang berlangsung sejak Februari 2026 tersebut kini telah memasuki tahap akhir dan dijadwalkan diluncurkan kepada publik pada Agustus 2026 bertepatan dengan HUT RI.
Pendokumentasian ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan pengetahuan budaya yang selama ini diwariskan secara lisan dan melalui praktik langsung di tengah masyarakat. Melalui dokumentasi yang sistematis, berbagai pengetahuan mengenai Tari Gandai diharapkan dapat tersimpan dengan baik dan menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang.
Baca juga: Di Balik Kemasan Randang Rangkito: Kisah Riri Menjaga Warisan Budaya Kampung Surau
Mendokumentasikan Jejak Seorang Maestro
Tim pelaksana kegiatan budaya Kabupaten Mukomuko telah menyelesaikan proses liputan dan pengumpulan data yang berlangsung pada 20–25 April 2026 di Desa Lubuk Pinang. Selama enam hari, tim melakukan serangkaian kegiatan yang mencakup observasi lapangan, wawancara mendalam dengan Siti Zahara dan para pelaku seni, pengambilan foto dan video, serta pendokumentasian pertunjukan Tari Gandai bersama komunitas lokal.
Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada sosok Siti Zahara sebagai maestro, tetapi juga merekam berbagai aspek yang berkaitan dengan Tari Gandai, mulai dari sejarah, nilai budaya, proses pembelajaran, hingga tantangan pelestariannya di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.
Melalui proses tersebut, tim berhasil mengumpulkan berbagai materi penting berupa transkrip narasi, catatan lapangan, dokumentasi foto, dan arsip video. Seluruh materi kini sedang menjalani tahap kurasi dan penyuntingan untuk disusun menjadi arsip digital dan publikasi resmi.
Ketua tim pelaksana Betty Herlina menyebutkan bahwa dokumentasi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap dedikasi Siti Zahara yang selama puluhan tahun menjaga dan mewariskan Tari Gandai kepada masyarakat.
“Ibu Zahara adalah sosok yang mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya demi menjaga keberlangsungan Gandai. Dokumentasi ini menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi beliau sekaligus sarana pewarisan budaya kepada generasi muda,” ujarnya.

Video Pendek Sebagai Arsip Digital
Hasil akhir dari kegiatan ini akan diwujudkan dalam beberapa bentuk publikasi yang dapat diakses masyarakat. Produk tersebut meliputi video pendek sebagai arsip digital serta naskah tertulis yang memuat perjalanan hidup Siti Zahara dan kontribusinya terhadap perkembangan Tari Gandai di Mukomuko.
Video pendek akan menampilkan kisah perjalanan maestro, proses kreatif, serta pandangannya mengenai pentingnya menjaga seni tradisi di tengah perkembangan zaman. Sementara itu, arsip digital akan menjadi ruang penyimpanan berbagai dokumen, foto, dan rekaman yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pendidikan, penelitian, maupun pengembangan kebudayaan.
Keberadaan arsip digital dinilai penting karena mampu menjaga informasi budaya tetap tersedia dalam jangka panjang. Selain itu, format digital memungkinkan masyarakat yang berada di luar Bengkulu untuk mengakses dan mengenal Tari Gandai dengan lebih mudah.
Peluncuran seluruh produk dokumentasi tersebut direncanakan berlangsung pada Agustus 2026. Momen tersebut dipilih karena bertepatan dengan HUT RI sehingga diharapkan mampu menjangkau publik yang lebih luas.
Baca juga: Supriyanti: Dari Konflik Agraria Menjadi Kesejahteraan Pangan
Dukungan Kementerian Kebudayaan dan LPDP
Program pendokumentasian karya maestro ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Danaindonesiana. Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya tak benda Indonesia.
Melalui program ini, pemerintah mendorong berbagai komunitas dan pelaku budaya untuk mendokumentasikan pengetahuan, praktik, serta ekspresi budaya yang memiliki nilai penting bagi masyarakat. Pendokumentasian dianggap sebagai langkah strategis untuk mencegah hilangnya pengetahuan budaya akibat berkurangnya jumlah pelaku maupun perubahan pola kehidupan masyarakat.
Bagi tim pelaksana, dukungan tersebut memberikan kesempatan untuk melakukan dokumentasi secara lebih komprehensif sehingga hasil yang diperoleh tidak hanya menjadi arsip, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi dan promosi budaya.
Menjaga Masa Depan Tari Gandai
Tari Gandai merupakan salah satu kesenian tradisional yang menjadi identitas masyarakat Mukomuko. Tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai sejarah, kebersamaan, serta hubungan masyarakat dengan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan seni tradisi menghadapi berbagai tantangan. Minat generasi muda yang berubah, terbatasnya ruang pertunjukan, serta berkurangnya jumlah pelaku seni menjadi persoalan yang dihadapi banyak kesenian daerah, termasuk Tari Gandai.
Karena itu, pendokumentasian karya maestro seperti Siti Zahara menjadi langkah penting untuk memastikan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki para pelaku budaya tidak hilang begitu saja. Dokumentasi dapat menjadi jembatan antara generasi terdahulu dan generasi penerus yang ingin mempelajari seni tradisi secara lebih mendalam.
Dengan peluncuran video pendek, arsip digital, dan naskah tertulis pada Agustus mendatang, masyarakat diharapkan dapat mengenal lebih dekat sosok Siti Zahara sekaligus memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Tari Gandai. Lebih jauh lagi, program ini diharapkan mampu memperkuat posisi Tari Gandai sebagai salah satu kebanggaan budaya Bengkulu yang dapat dikenal tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di panggung budaya internasional.
Melalui dokumentasi yang terencana dan berkelanjutan, warisan budaya yang selama ini dijaga oleh para maestro dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.
