Di Balik Kemasan Randang Rangkito: Kisah Riri Menjaga Warisan Budaya Kampung Surau

Ais Fahira

News, Tokoh

Bincangperempuan.com- Sebuah ruang tamu dengan sofa kayu beralas busa; sebuah meja kaca di depannya terhidang dua cangkir es kopi susu. Sinar matahari sore menyorot dinding hijau muda—warna yang biasanya terasa sejuk, kini tampak hangat oleh cahaya yang pelan-pelan merambat masuk dari jendela.

Riri Mualimin menyambut dengan senyum ramah di kediamannya, tepatnya di Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya. Jilbab krem dan kemeja bunga-bunga yang ia kenakan menambah kesan hangat itu. “Silakan diminum dulu,” ujarnya sambil menuangkan es kopi susu ke dalam cangkir kaca.

Ia duduk berhadapan, memperhatikan dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, seolah menunggu sang tamu membuka obrolan. Saya memperkenalkan diri, lalu menjelaskan maksud untuk menulis kisahnya, tentang perjalanan panjang Randang Rangkito—Rendang Paku Ikan khas Kampung Surau yang kini dikenal hingga luar negeri.

Awal Mula Usaha Randang Rangkito

Riri memulai usahanya pada tahun 2014, setelah merasa pekerjaan kantoran tak lagi memberi ruang bagi dirinya untuk tumbuh. Ia teringat teman-teman ibunya yang sering meminta dibuatkan Rendang Paku Ikan khas kampung halamannya. “Kenapa nggak dijadikan usaha saja?” pikirnya waktu itu. Dari dapur rumah, ia mulai bereksperimen dengan resep keluarga yang diwariskan turun-temurun.

“Awalnya peminatnya tidak banyak,” kenangnya. “Setahun berjalan tidak begitu laku. Dua tahun mulai sedikit, lalu dikenalkan ke dinas dan dibawa promosi ke pameran di ibukota dan pusat.”

Tantangan terbesarnya bukan soal rasa, tapi urusan legalitas. “Izin usaha dan logo halal itu perjuangannya panjang sekali,” katanya. “Tapi berkat perjuangan itu, produk ini masih eksis sampai sekarang.”

Bahkan nama ‘Rangkito’ punya alasan tersendiri. “Rangkito itu kepanjangan dari urang kito—orang kita. Saya ajukan lima nama untuk hak paten, dan ternyata yang dipilih Rangkito ini,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Perjuangan mengurus sertifikasi halal juga penuh cerita. “Waktu itu sampai ditanya, bahan diperoleh lewat anjing atau tidak,” katanya sambil terkekeh. “Saya bahkan disuruh salat dan bersumpah untuk memastikan semuanya halal. Kalau sekarang kan gampang, semua sudah online. Dulu panjang sekali prosesnya.”

Awalnya, rendang buatannya dikemas sederhana—plastik stand pouch dengan lapisan aluminium foil dan stiker kecil di bagian depan. Butuh waktu hingga 2021 bagi Riri untuk menghadirkan kemasan baru berbentuk kotak yang rapi dan layak dijadikan buah tangan khas Dharmasraya.

“Yang terbaru malah sudah ganti lagi desainnya, lebih bagus, dan saya pakai jasa profesional,” jelasnya. “Bahkan pada 2021, Rendang Paku Ikan sudah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kemendikbud.”

Riri menargetkan pasar menengah ke atas. “Karena customer kebanyakan dari kalangan itu, makanya dibuat kemasan kotak biar lebih bergengsi,” katanya. Kini, produknya juga dilengkapi label dua bahasa karena banyak pelanggan dari luar negeri—teman-temannya yang kuliah atau kerja di luar sering memesan sebagai buah tangan dari Indonesia.

Randang Rangkito kemasan 100gram yang siap jual. (foto: Ais Fahira/Bincang Perempuan)

Baca juga: Supriyanti: Dari Konflik Agraria Menjadi Kesejahteraan Pangan

Sejarah Rendang Paku Ikan Khas Kampung Surau

Kisah Rendang Paku iKan dari Kampung Surau jauh lebih tua dari usia bisnisnya. Berdasarkan cerita lisan yang beredar di masyarakat, makanan ini sudah hadir sejak Kampung Surau berdiri.

“Dulu belum ada tulisan resminya. Malah baru ditulis setelah ada tim dari Kemendikbud datang menelusuri, saya dijadikan salah satu narasumbernya,” ujarnya.

Menurut Riri, ada beberapa versi tentang asal mula Rendang Paku. Di tepi Sungai Pangian, di mana tumbuh subur tanaman pakis yang jadi bahan utama, rendang ini lahir dari kebutuhan dan kearifan lokal.

“Saat warga Kampung Surau ingin membuat rendang, daging hanya ada di hari raya seperti Idul Adha. Jadi mereka mengolah apa yang ada di alam saja seperti ikan dari sungai dan paku dari tepinya,” terang Riri.

Bagi masyarakat Kampung Surau, ikan dan paku menjadi bahan yang sangat penting dalam membuat Rendang Paku Ikan. Keduanya dijaga oleh warga melalui “Lubuk Larangan” artinya ikan tidak boleh diracun, paku juga dilarang untuk diambil sembarangan.

Ada juga cerita versi keluarganya, Rendang Paku Ikan hadir sebagai bekal di masa pergolakan. “Kakek saya dulu tentara PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia). Katanya, untuk ransum mereka masak gulai ikan dan paku di dapur umum yang di-angek-angekan itu lama dimasak terus sampai jadi rendang” kisahnya.

Proses memasaknya tak main-main. Satu hari penuh hanya untuk menyiapkan bahan. Seperti paku yang tidak terlalu menggulung dan tak terlalu lebar, ikan sungai, cabai, bawang merah, bawang putih, dan santan. “Paku yang bagus itu yang masih hijau, nggak terlalu tua atau muda,” jelas Riri.

Hari berikutnya barulah proses memasak bersama tim di dapur produksi menggunakan kuali besar, atau yang disebut kanca. Prosesnya bisa memakan waktu selama delapan jam. “Masih tradisional, masih pakai tungku dan kayu bakar,” kata Riri. Prosenya tak berhenti di situ, setelah matang, tulang ikan dipilih satu per satu supaya hasilnya halus.

Hasilnya adalah rendang kering dengan aroma khas yang kuat, bisa bertahan hingga tiga bulan tanpa pengawet. Sekilas teksturnya lembut, tapi masih menyisakan serat kelapa dan tekstur ikan yang gurih. “Kalau orang kampung sini bikin untuk makan sendiri, biasanya lebih basah. Kalau saya buat jualan, harus kering supaya bisa tahan lama,” tambahnya.

Potret Riri saat mengenalkan Randang Rangkito di kancah nasional, dan berfoto bersama mantan Menteri Pariwisata, Sandiaga Uno. (foto: Ais Fahira/Bincang Perempuan)

Dukungan dan Perjalanan Bisnis

Saat awal memulai usaha, dukungan dari pemerintah belum banyak. “Dulu program pelatihan hanya untuk yang sudah punya izin. Kalau kita baru merintis, susah ikut,” jelas Riri. Tapi justru dari situ ia banyak belajar. Ia sering bolak-balik ke luar kota untuk mengurus izin, promosi, sampai pengemasan.

“Yang kakak syukuri, keluarga dan suami selalu dukung. Kalau kakak pergi, ibu atau suami mau gantian jaga anak-anak. Jadi bisa saling bantu,” ujarnya. Riri menegaskan peran keluarga sangat besar dalam keberlanjutan usahanya. Tanpa dukungan itu, katanya, mungkin usaha ini tak akan bertahan sejauh sekarang.

Akhirnya, semua kerja keras membuahkan hasil. “Sekarang orang kenal saya karena Randang Rangkito. Sebagai perempuan pebisnis, saya bersyukur bisa produktif,” ucapnya tersenyum.

Kini Riri aktif berbagi ilmu. Ia kerap mengisi pelatihan tentang pengolahan Rendang Paku dan bisnis UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). “Kakak senang berbagi resep, karena mindset-nya bukan sekadar berdagang, tapi bisnis. Kalau nanti banyak pesanan, kita bisa saling bantu,” katanya.

Selain menjaga cita rasa, Riri juga punya semangat menjaga budaya dan lingkungan. “Bisnis ini jadi salah satu bentuk keuntungan hasil hutan non kayu. Kalau biasanya orang kan jual kayu menebang ya, kakak senang bisa menghasilkan dari hutan non kayu, tidak merusak alam,” ujarnya.

Dalam produksi, ia melibatkan perempuan-perempuan Kampung Surau, terutama ibu-ibu kepala keluarga. “Sekitar dua puluh orang sudah kami latih. Biar mereka bisa punya penghasilan juga,” katanya bangga.

Selain rendang, Riri juga pernah memberi pelatihan tentang jajanan sehat. “Tepung terigu kan nggak tumbuh di bumi kita. Jadi, kenapa nggak pakai bahan lokal aja?” katanya sambil tersenyum.

Kini, oleh-oleh khas Kampung Surau ini bisa ditemukan di berbagai platform digital—Shopee, website resmi, hingga Instagram. Randang Rangkito dijual mulai dari kemasan 100 gram, 150 gram, 250 gram, hingga 1 kilogram seharga Rp400.000.

Namun, Riri mengakui tantangan tetap ada. “Lucunya, di Dharmasraya sendiri justru belum banyak peminatnya. Mungkin karena dari awal saya sudah menargetkan pasar nasional,” jelasnya. Tapi baginya, itu justru tantangan tersendiri—bagaimana memperkenalkan kembali produk lokal kepada masyarakat lokal.

Baca juga: Yesi Sepriani: Perempuan di Garis Depan Perjuangan Lingkungan 

Menjaga Warisan Budaya

Menjelang sore, obrolan kami makin hangat. Cahaya matahari condong ke barat, menembus jendela ruang tamu, menorehkan bayangan di dinding hijau muda. Riri menatap keluar sejenak sebelum berkata pelan, “Saya cuma ingin lebih banyak anak muda yang peduli dengan budaya Dharmasraya.”

Ia mengaku resah melihat banyak generasi muda yang memilih merantau tanpa menoleh ke potensi kampung halamannya. “Padahal kalau kita mau, banyak yang bisa dikembangkan di sini,” katanya.

“Sebagai perempuan, setidaknya kita berkontribusi untuk generasi selanjutnya dan untuk daerah kita,” tegasnya.

Obrolan pun terus berlanjut. Di antara sisa cahaya sore yang mulai meredup, kopi susu dan Rendang Paku Ikan seolah melebur dalam cerita tentang rasa, budaya, dan cinta seorang perempuan pada kampung halamannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Inisiatif Perempuan

Teras

Artikel Lainnya

“Aku Nggak Bisa, Kamu Kan Lebih Jago”: Mengenal Weaponized Incompetence dalam Rumah Tangga

Perang Gender: Mengapa Banyak Perempuan Korea Menolak Berkencan, Menikah dan Punya Anak?

Perempuan Papua Merawat tradisi memakan pinang

Perempuan Papua Merawat Tradisi Memakan Pinang

Leave a Comment