Bincangperempuan.com- Menentukan resolusi tahun baru bisa berbeda-beda cara bagi tiap orang. Ada yang datang dari refleksi akhir tahun, ada juga yang lahir dari kesadaran kecil seperti jenuh, atau ingin hidup lebih ramah dengan diri sendiri. Bagi sebagian besar orang, resolusi sering diprioritaskan ke ekonomi dan kesehatan. Bagi perempuan, resolusi-resolusi ini tentu penting dan relevan.
Namun, pengalaman hidup perempuan tidak berhenti di sana. Masih ada relasi yang timpang, batas emosional yang kerap diterobos, serta minimnya ruang untuk benar-benar mendengar tubuh sendiri juga menjadi bagian dari keseharian, meski jarang dianggap sebagai sesuatu yang perlu “ditargetkan” dalam resolusi.
Maka dari itu, resolusi tahun baru bisa menjadi cara sederhana untuk menata ulang hidup dengan mengurangi beban perempuan. Kira-kira resolusi seperti apa yang bisa membuat perempuan lebih adil dan berdaya?
Baca juga: 10 Tahun, 1.131 Kriminalisasi Aktivis Lingkungan
Apa Saja Rekomendasi Resolusi Tahun Baru yang Berpihak Kepada Perempuan?
Resolusi tahun baru yang berpihak kepada perempuan bisa dimulai dari hal sederhana. Dari sanalah berbagai bentuk resolusi bisa dirumuskan.
Mendengarkan dan Mengenal Tubuh Sendiri
Banyak perempuan baru benar-benar memperhatikan tubuhnya ketika sakit. Padahal, tubuh terus memberi sinyal setiap hari—lelah, lapar, tegang, atau tidak nyaman—yang sering kali diabaikan. Sejak kecil, tubuh perempuan kerap diperlakukan sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Akibatnya, tidak sedikit perempuan tumbuh tanpa pengetahuan yang memadai tentang kondisi tubuhnya sendiri.
Situasi ini juga diperkuat oleh berbagai mitos seputar menstruasi yang masih dipercaya hingga kini. Larangan keramas, minum minuman bersoda, atau berenang saat menstruasi, misalnya, sering diwariskan tanpa penjelasan ilmiah yang jelas. Mitos-mitos semacam ini bukan hanya membatasi aktivitas perempuan, tetapi juga menjauhkan mereka dari pemahaman yang utuh tentang tubuh dan kesehatan reproduksinya.
Mendengarkan tubuh berarti juga berani mempelajari sistem reproduksi sendiri secara lebih terbuka dan kritis. Menstruasi bukan sesuatu yang kotor atau memalukan, melainkan proses biologis yang wajar dan menandakan bahwa tubuh bekerja sebagaimana mestinya.
Women Support Women,Tanpa Syarat
Dukungan antar perempuan sering digaungkan, tetapi tidak selalu dipraktikkan. Resolusi ini bisa diwujudkan melalui mendukung bisnis kecil milik perempuan, merayakan pencapaian teman tanpa membandingkan diri, atau berhenti ikut dalam kompetisi yang sebenarnya tidak perlu.
Solidaritas tidak selalu berbentuk aksi besar. Tetapi juga hadir dalam sikap sehari-hari—tidak meremehkan, tidak menjatuhkan, dan tidak menormalisasi iri yang destruktif.
Baca juga: Softboy Simbol Maskulinitas Baru Atau Trik Manipulasi Semata?
Berani Mengatakan “Tidak” Tanpa Rasa Bersalah
Perempuan kerap dibesarkan dengan tuntutan untuk serba bisa baik di rumah, di tempat kerja, maupun dalam relasi sosial. Menolak sering dianggap tidak sopan, tidak peduli, atau egois. Padahal, kemampuan mengatakan “tidak” adalah bentuk pengelolaan energi yang sehat.
Resolusi tahun baru bisa berupa keberanian untuk berhenti menjadi people pleaser, terutama ketika tubuh dan pikiran sudah tidak sanggup. Menetapkan batas bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Berhenti Terlalu Sering Meminta Maaf
Tahukah kamu? Sebuah penelitian menunjukkan kalau perempuan lebih sering meminta maaf dibanding laki-laki. Studi yang dilakukan oleh Karina Schumann dan Michael Ross (University of Waterloo) menemukan bahwa perempuan memiliki ambang batas yang lebih rendah dalam menilai suatu tindakan sebagai kesalahan, sementara laki-laki cenderung baru merasa perlu meminta maaf ketika pelanggaran yang dilakukan dianggap serius.
Perbedaan ini tidak muncul begitu saja. Sejak kecil, perempuan kerap disosialisasikan untuk menjaga perasaan orang lain, bersikap “manis”, dan tidak mengganggu ruang sosial. Akibatnya, permintaan maaf menjadi refleks—bahkan untuk hal-hal yang sepenuhnya wajar. Bertanya, menyampaikan pendapat, menindaklanjuti pekerjaan, mengambil ruang, atau menegaskan batas sering kali disertai kata “maaf”, seolah-olah keberadaan diri sendiri adalah beban.
Padahal, tidak semua hal membutuhkan permintaan maaf. Melainkan belajar menghargai keberadaan diri sendiri. Resolusi ini dapat dimulai pertanyaan apakah permintaan maaf itu benar-benar perlu, atau hanya refleks yang lahir dari kebiasaan lama?
Tidak Menghakimi Perempuan Lain
Pilihan hidup perempuan sangat beragam mulai dari cara berpakaian, karier, relasi, hingga gaya hidup. Tidak semuanya harus disetujui, tetapi juga tidak perlu dihakimi. Dunia sudah cukup keras tanpa sesama perempuan saling mempersempit ruang satu sama lain.
Resolusi ini menuntut kesadaran untuk membedakan antara preferensi pribadi dan standar moral yang memaksakan. Selama tidak menyakiti siapa pun, setiap perempuan berhak menjalani hidupnya dengan caranya sendiri.
Berani Bernegosiasi dalam Hal Ekonomi
Dalam konteks ekonomi, ketimpangan masih nyata. Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia tercatat hanya 52,5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki yang mencapai 81,5 persen. Bahkan perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi masih kerap menerima upah lebih rendah dibanding laki-laki dengan kualifikasi serupa.
Resolusi untuk berani bernegosiasi soal gaji, beban kerja, maupun kesempatan—bukanlah bentuk keserakahan, melainkan upaya menempatkan nilai yang adil atas kerja dan kompetensi. Tahun baru bisa menjadi momentum untuk menetapkan standar yang lebih layak.
Pada akhirnya, resolusi yang berpihak kepada perempuan berangkat dari hal-hal sederhana yang dekat dengan keseharian, bukan dari tuntutan untuk berubah secara drastis. Semoga resolusi yang berpihak pada perempuan hari ini bisa mendorong kebijakan yang lebih ramah dan setara esok hari.
Referensi:
- UN Women Asia Pacific. (2020, September). Gender pay gap statistic in Indonesia. Diakses dari https://asiapacific.unwomen.org
- World Bank. (n.d.). Indonesia gender data. Diakses pada 18 Maret 2025, dari https://genderdata.worldbank.org
- Schumann, K., & Ross, M. (2010). Why women apologize more than men: gender differences in thresholds for perceiving offensive behavior. Psychological science, 21(11), 1649–1655. https://doi.org/10.1177/0956797610384150
