#SamaSamaAman: Identitas Perempuan di Balik Romance Scam

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- B-Pers mungkin pernah membaca atau mendengar berita penipuan yang pelakunya memakai identitas perempuan. Di sosial media, mereka tampil sebagai perempuan mulai dari foto tubuh serta wajah, gaya bahasa yang meyakinkan, persona yang dirancang rapi. Tapi ketika diminta video call, sosok yang muncul ternyata bukan perempuan, bukan orang di foto, bahkan bisa jdi bukan satu orang saja. 

Pelaku biasanya membangun kedekatan lewat pendekatan romantis. Begitu korban terjebak dan mengirim foto atau video intim, ancaman pun muncul. Konten intim akan disebarkan kalau korban tidak membayar sejumlah uang. Kasus seperti ini bukan hanya merugikan korban, tapi juga menunjukkan bagaimana identitas perempuan dimanfaatkan sebagai alat penipuan yang efektif, karena dianggap lebih dapat dipercaya dan lebih mudah memikat.

Identitas Perempuan sebagai Komoditas Digital

Kasus seperti ini dikenal sebagai romance scam. Menurut situs Consumer Advice, pelaku romance scam menggunakan beragam cara untuk mendekati korban. Mereka dapat menemukan target melalui aplikasi kencan, mengirim permintaan pertemanan secara tiba-tiba di media sosial, atau memulai percakapan di platform game

Ketika korban merespons, pelaku akan membanjiri dengan perhatian, berusaha membangun hubungan intens, dan mendorong komunikasi setiap hari. Namun tidak lama kemudian, fokus mereka bergeser pada uang atau seks. Pelaku mengaku sedang menghadapi keadaan darurat dan membutuhkan bantuan finansial, atau dengan metode lain seperti korban bertukar konten intim lalu diancam akan disebar jika tidak membayar sejumlah uang.

Dalam konteks romance scam, identitas perempuan layaknya komoditas yang dapat dipakai, diperdagangkan, dan direkayasa sesuka hati. Wajah, tubuh, gaya komunikasi, hingga citra perempuan baik-baik dibentuk menjadi sesuatu yang dirancang untuk menarik kepercayaan calon korban. 

Padahal, kendali atas akun tersebut sering kali tidak berada pada perempuan. Pelaku bisa berupa laki-laki, kelompok kriminal, hingga sindikat lintas negara yang mengoperasikan identitas palsu secara terstruktur.

Identitas perempuan direkayasa sedemikian rupa agar terlihat autentik. Foto-foto diambil dari media sosial tanpa izin pemiliknya, dipoles dengan teknologi digital atau AI, lalu disandingkan dengan narasi yang dibuat untuk membangun kedekatan emosional. Yang dijual bukan hanya wajah, tetapi ilusi hubungan personal. 

Fenomena ini juga memperkuat stereotipe lama tentang perempuan sebagai sosok “penggoda” atau “manipulatif”. Identitas perempuan dijadikan topeng, tetapi stigma sosial justru diarahkan kepada perempuan yang tidak terlibat sama sekali. Romance scam berbasis identitas perempuan memperlihatkan bagaimana tubuh dan representasi perempuan terus dinegosiasikan dan dimanipulasi tanpa kendali mereka. Selama publik masih menganggap akun perempuan lebih aman atau lebih dapat dipercaya, dan selama foto perempuan mudah diambil dari internet, pola eksploitasi ini akan terus berulang. 

Baca juga: #SamaSamaAman: Budaya Maskulinitas Toksik, Ketika Laki-laki Dilarang Jadi Korban 

Korban Ganda

Kejahatan romance scam melahirkan korban ganda. Pertama, korban yang ditipu dan diperas. Mereka dihantam rasa malu, takut, dan kehilangan uang. Lalu korban kedua yaitu perempuan yang fotonya dicuri. Mereka tidak memiliki akses untuk membela diri, tetapi wajah mereka terlanjur dipakai untuk kejahatan.

Yang lebih parah, ada victim blaming ganda. Korban romance scam diserang karena dianggap terlalu polos atau mudah percaya. Sementara perempuan yang fotonya dicuri juga dihantam stigma dianggap genit, dan disangka benar-benar melakukan penipuan atau scam. Padahal mereka bahkan tak pernah tahu foto mereka dijadikan alat pemerasan.

Perempuan akhirnya diposisikan di dua sisi yang sama-sama rugi, sebagai wajah penipuan yang tidak pernah mereka lakukan, dan sebagai subjek yang harus menanggung malu dari kejahatan yang tidak mereka pilih.

@bincangperempuan

Kasus love scam dan pelecehan di dating app itu nyata dan banyak banget korbannya perempuan. Tapi anehnya, masyarakat malah sering nyalahin korban cuma karena mereka pakai dating app. Padahal yang harusnya disorot itu pelaku, bukan pilihan korban buat kenalan online! #datingapp #lovescammer #datingapps #kbgo #kekerasanperempuan

♬ Mysterious and sad BGM(1120058) – S and N

Apa yang Dilakukan?

Memahami tanda-tanda romance scam merupakan langkah pertama untuk menghindarinya. Komisi Perdagangan Federal (FTC) memberikan beberapa panduan penting untuk tetap aman saat berinteraksi secara daring:

  1. Verifikasi informasi. Telusuri nama, foto, atau detail lain dari orang yang Anda temui. Pelaku sering mencuri foto dari akun orang lain.
  2. Bicarakan pada orang tepercaya. Jika ragu terhadap seseorang yang Anda kenal secara daring, mintalah pendapat teman atau anggota keluarga. Pelaku kerap berusaha mengisolasi korban.
  3. Jangan pernah mengirim uang. Apa pun alasannya, jangan mengirim uang melalui transfer bank, kartu hadiah, atau metode lain. Setelah dikirim, uang tersebut tidak dapat ditarik kembali.
  4. Laporkan jika terlanjur mengirim uang. Jika Anda merasa telah menjadi korban, segera hubungi bank untuk menghentikan transaksi lebih lanjut.

Jika telah terlanjur menerima ancaman penyebaran foto atau video pribadi, penting untuk mengetahui bahwa tindakan tersebut termasuk pemerasan digital. Pasal 27B ayat (2) UU 1/2024 tentang Perubahan Kedua UU ITE menegaskan bahwa pemerasan dengan ancaman pencemaran melalui media elektronik dapat diproses secara hukum. Korban berhak melapor.

Untuk mendapatkan bantuan, kamu dapat menghubungi SafeNET, layanan SAPA 129, atau LBH APIK, yang menyediakan pendampingan bagi korban kekerasan dan kejahatan berbasis digital.

Baca juga: #SamaSamaAman: Petaka Perempuan di Balik Gawai Pintar

Pada akhirnya identitas perempuan dalam romance scam memperlihatkan bahwa tubuh dan citra perempuan masih rentan diperlakukan sebagai komoditas yang dapat diambil, dipalsukan, dan diperdagangkan tanpa persetujuan. Di tengah kemajuan teknologi, terutama penggunaan kecerdasan buatan yang mampu memproduksi foto maupun persona palsu, kebutuhan akan regulasi menjadi semakin mendesak. Regulasi tidak hanya harus mengatur penggunaan AI secara etis dan bertanggung jawab, tetapi juga memberikan perlindungan bagi individu yang identitasnya dicuri, agar mereka tidak justru menjadi pihak yang disalahkan.

Selain penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku, negara dan platform digital perlu menyediakan mekanisme pelaporan yang jelas, akses penanganan yang cepat, serta perlindungan data yang lebih ketat. Pemilik identitas yang disalahgunakan harus memiliki akses terhadap pemulihan, termasuk penghapusan konten, klarifikasi publik, dan dukungan hukum.

Di sisi lain, korban romance scam membutuhkan ruang aman untuk melapor tanpa takut dipermalukan atau disalahkan. Stigma sosial sering kali membuat mereka memilih diam, padahal dukungan psikologis dan pendampingan sangat penting untuk memulihkan rasa aman mereka. Dengan menciptakan lingkungan yang tidak menyalahkan korban serta memperkuat regulasi dalam ekosistem digital, kita dapat memastikan bahwa ruang daring menjadi tempat yang lebih aman, adil, dan berpihak pada mereka yang rentan.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Perempuan Adat Papua Penjaga Hutan dan Pendorong Pala Fakfak ke Industri Parfum Dunia

Perempuan Adat Papua: Penjaga Hutan dan Pendorong Pala Fakfak ke Industri Parfum Dunia

Pelemahan Perempuan dan Kelompok Rentan Apabila RUU TNI Disahkan

Pelemahan Perempuan dan Kelompok Rentan Apabila RUU TNI Disahkan

Conscious Beauty: Menantang Standar Kecantikan Patriarki

Conscious Beauty: Menantang Standar Kecantikan Patriarki

Leave a Comment