Sebelum Kutang: Sejarah Perempuan Nusantara yang Lebih Bebas

Ais Fahira

News

Sebelum Kutang Sejarah Perempuan Nusantara yang Lebih Bebas

Bincangperempuan.com– Kutang, bra, atau BH apapun sebutannya sekarang udah dianggap pakaian dalam wajib bagi perempuan modern. Tapi, tahukah B’Pers, jauh sebelum kedatangan kolonial, perempuan Nusantara justru tidak mengenakan penutup dada seperti itu.

Tubuh Perempuan Sebelum “Kesopanan” Barat

Di banyak wilayah Nusantara, terutama sebelum abad ke-20, dada perempuan bukanlah wilayah terlarang. Tetapi dipandang sebagai bagian dari tubuh sama seperti tangan atau wajah, yang tidak otomatis dilihat dalam kacamata seksual. Bahkan dalam banyak budaya tradisional Nusantara, payudara justru dimaknai sebagai simbol kesuburan, pengasuh, dan peningkatan nilai kehidupan.

Di Jawa, perempuan biasa menutup dada dengan kemben selembar kain sederhana yang dililit tanpa kawat, busa, atau kait logam. Di Sulawesi Selatan, baju bodo jadi pilihan tipis, longgar, bahkan transparan, dan tetap dianggap pantas dipakai di acara adat. Bahkan di Papua, Bali, Sumba, hingga sebagian Kalimantan menganggap bahwa payudara yang terlihat bukanlah hal yang tabu. 

Kolonialisme: Dari Jalan Raya Pos ke Jalan Raya Moral

Melansir Tirto, Remy Sylado dalam novelnya Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil (2007) memotret kisah yang diyakini sebagai “pertemuan pertama” kutang dengan Nusantara. Ceritanya, di masa Gubernur Jenderal Daendels (1808–1811), proyek ambisius Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan melibatkan banyak tenaga kerja perempuan Jawa. Mereka bekerja dengan bertelanjang dada, sebuah hal yang saat itu wajar.

Hingga datang seorang bangsawan Spanyol-Perancis bernama Don Lopez Comte de Paris. Melihat pemandangan itu, ia menghampiri salah satu perempuan yang dianggap paling cantik, memberinya selembar kain, lalu memerintahkan, “Coutant!” — kata dalam bahasa Prancis yang berarti “berharga”. Dari sanalah, konon, kata “kutang” lahir, teradaptasi dalam lidah lokal.

Di era kolonial, kata kutang punya arti yang jauh lebih luas dibanding sekarang: mulai dari rompi dalam laki-laki (borstrok), kemeja, hingga penutup dada perempuan. Tapi begitu mode Eropa masuk dan mulai mengatur “kesopanan” berpakaian, maknanya menyempit hanya pada penutup payudara perempuan.

Baca juga: Luka Patriarki: Inses, Ekonomi, dan Perlindungan Anak di Bengkulu

Bra: Dari Paten ke Penaklukan Pasar

Bra modern lahir di Barat, Mary Phelps Jacob alias Caresse Crosby menciptakannya pada 1910 karena muak dengan korset yang membatasi gerak. Setelah dipatenkan pada 1914, bra berkembang pesat lewat perusahaan seperti Maidenform.

Di Hindia Belanda 1920-an, bra (Buste Houder atau BH) masuk lewat komunitas Eropa. Perempuan pribumi terutama kelas menengah terdidik mulai menirunya, mengikuti tren “kesopanan” baru. Sekolah kolonial dan gereja mendorong murid perempuan mengenakan pakaian ala Barat lengkap dengan pakaian dalamnya.

Industri Bra di Indonesia

Terlepas dari pergeseran moral soal “kesopanan” dan fungsi bra, industri pakaian dalam perempuan di Indonesia berkembang menjadi bisnis bernilai besar. Sejak muncul iklan legendaris kutang “Bengawan Solo” pada 1958 dengan tagline “kwaliteit tetap terdjamin istimewa”—pasar mulai sadar bahwa kutang adalah komoditas yang bisa dijual dengan citra kualitas dan gengsi.

Kemudian pada sekitar 1960-an, muncul inovasi lokal yang mencetak sejarah yaitu Kutang Suroso. Dinamai dari produsennya, Bapak Suroso, model ini menjadi ikon busana dalam perempuan di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Menurut Sulistiyoningrum (dikutip National Geographic Indonesia), bentuk kutang ini punya akar sejarah yang jauh lebih tua daripada yang kita kira — bahkan disebut sudah dikenal sebelum masyarakat Nusantara mengenal tenun kain lembaran. Artinya, bentuk “penyangga dada” ini sebenarnya lahir dari tradisi busana lokal, bukan sekadar adopsi Barat.

Berbeda dengan bra modern yang umumnya memakai pengait di bagian belakang dan memiliki cup berbentuk mengikuti payudara, kutang Suroso punya bentuk sederhana menyerupai tabung atau silinder. Ia membungkus dada dari bawah ketiak hingga dada bagian atas, tanpa kawat, busa, atau struktur cup yang kaku. Materialnya biasanya katun lembut, ringan, dan mampu menyerap keringat — cocok untuk iklim tropis dan aktivitas sehari-hari.

Ciri paling khasnya ada pada letak kancing di bagian depan. Desain tersebut sangat efisien terutama bagi perempuan lanjut usia. Banyak lansia kesulitan memakai bra biasa karena harus memutar tangan ke belakang untuk mengaitkan atau mengancingkan. Dengan kancing depan, pemakaian jadi jauh lebih mudah dan mandiri, tanpa perlu bantuan orang lain.

Baca juga: ASN Dilarang Bercerai? Helmi Hasan Lupa Negara Bukan Penjaga Rumah Tangga

Kutang Sebagai Alat Disiplin Tubuh

Melalui sejarah tersebut, kutang bukan sekadar kain dengan kawat dan busa. Tetapi juga bagian dari proyek besar kolonialisme dan modernitas untuk mendisiplinkan tubuh perempuan. Bentuk payudara harus seragam, gerakan harus terkendali, dan penampilan harus sesuai standar luar.

Tubuh perempuan jadi wilayah politik. Kutang jadi salah satu “benteng moral” yang dimasukkan ke dalam rutinitas harian, dari kelas elit sampai kelas pekerja.

Walaupun demikian, persepsi ini juga dipengaruhi tafsir agama yang lebih ketat. Payudara, yang dulunya bagian tubuh biasa, mulai dilihat sebagai aurat yang harus ditutupi rapat-rapat. Akibatnya, generasi perempuan yang tumbuh setelah 1950-an menganggap keluar rumah tanpa bra adalah salah, meskipun secara medis tidak ada larangan. Rasa malu terhadap tubuh sendiri menjadi “warisan” kultural baru.

Ironi No-Bra Movement

Kini, di berbagai negara barat, muncul tren no-bra movement. Gerakan ini berkembang dengan berbagai motif, mulai dari kenyamanan fisik, alasan kesehatan (mengurangi risiko nyeri punggung dan masalah sirkulasi), sampai body positivity yang menolak penilaian tubuh berdasarkan bentuk payudara.

Ironisnya, gerakan ini sering dianggap “baru” atau “barat”, padahal perempuan Nusantara sudah hidup tanpa kutang ratusan tahun sebelum semua aturan ini dibuat.

Kini payudara telah diposisikan sebagai wilayah privat dan “aurat” dalam kombinasi norma moral kolonial dan tafsir agama yang makin ketat. Akibatnya, keluar rumah tanpa bra langsung dianggap melanggar kesopanan, bahkan memancing stigma tabu.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Mengapa Perempuan Menjadi Korban Terbanyak Kekerasan dalam Rumah Tangga?

Perkawinan anak bukan solusi

Perkawinan Anak Bukan Solusi Atas Kehamilan yang Tak Diinginkan

Tren Boneka Labubu

Media Sosial dan Hedonisme Di Balik Labubu  

Leave a Comment