Tantangan Tersembunyi Menurunkan Angka Kematian Ibu

Betty Herlina

Kesehatan, News

Bincangperempuan.com– Perawatan pascapersalinan masih jadi prioritas kesehatan yang sering kelewat nih B’Per’s, padahal perawatan saat persalinan sudah berhasil nurunin Angka Kematian Ibu (AKI) di banyak negara.

Risiko yang ngancam nyawa perempuan hamil dan bayi baru lahir di Gaza—gara-gara nggak punya akses ke perawatan pascanatal dan gizi—jadi alarm keras buat negara berkembang biar serius tingkatin layanan ini.

Studi terbaru di 71 negara berpenghasilan rendah dan menengah nunjukkin: dari 76 persen perempuan yang melahirkan di fasilitas kesehatan, cuma 41 persen yang dapat layanan pascapersalinan. Negara yang ada di kelompok termiskin malah punya gap layanan lebih lebar lagi.

Di negara berkembang kayak India, kebiasaan perempuan merawat diri setelah melahirkan—yang jadi indikator kesadaran kesehatan sekaligus norma budaya—masih kurang banget. Dampaknya, makin sedikit perempuan yang datang ke fasilitas kesehatan buat dapat saran medis profesional.

Ada beberapa faktor yang nentuin apakah perempuan bakal pakai layanan pascanatal atau nggak, kayak hasil kehamilan terakhir, keinginan punya anak, tempat melahirkan, pendidikan, sampai pendapatan bulanan.

Di Ethiopia, studi nunjukkin cuma 32,5 persen pasangan laki-laki yang ikut terlibat dalam layanan pascanatal. Minimnya dukungan keluarga ini bikin perempuan makin susah akses layanan yang penting banget buat keselamatan ibu dan bayi.

Secara global, sekitar 260 ribu perempuan meninggal waktu hamil dan setelah melahirkan di tahun 2023. Dari angka itu, 48,9 persen meninggal dalam 24 jam setelah persalinan, 24,5 persen antara 2–7 hari, dan 24,9 persen dalam 8–42 hari setelah melahirkan.

Kalau layanan pascanatal nggak jalan maksimal, target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 3.1—buat nurunin AKI—bakal susah tercapai. Bahkan bisa bikin perempuan jadi makin cuek sama kehamilan berikutnya.

Baca juga: Perjuangan Perempuan Uttarakhand Mencari Nafkah

Keterlambatan Perawatan Pascanatal

WHO nyaranin empat kali kunjungan pascanatal. Pemeriksaan pertama dalam 24 jam fokus ke pendarahan ibu, infeksi, pengecilan rahim, pernapasan bayi, pemberian ASI, suhu tubuh, plus vitamin K.

Kunjungan kedua, 48–72 jam setelah lahiran, buat ngecek pemulihan ibu, anemia, infeksi, serta pertumbuhan dan berat bayi baru lahir (termasuk risiko kuning).

Hari ke-7–14, ibu diperiksa soal depresi pascapersalinan, kesehatan fisik, dan imunisasi bayi.

Di usia enam minggu, pemeriksaan terakhir biasanya ngecek panggul ibu, konseling kontrasepsi, dan tumbuh kembang bayi.

Masalahnya, meski seperempat kematian ibu terjadi di periode pascanatal akhir, data WHO, UNICEF, dan NFHS masih lebih banyak fokus ke perawatan dalam 2 hari pertama setelah lahiran.

Riset dan laporan juga lebih condong bahas kunjungan awal, padahal pemeriksaan lanjutan setelah 6 minggu sering di-skip. Akhirnya, data dan pemahaman soal pascanatal jangka panjang jadi minim.

Di India, tren perawatan pascanatal dini memang naik: dari 37 persen (2005–06, NFHS-3) ke 78 persen (2019–21, NFHS-5). Tapi studi di Faridabad, Haryana (Desember 2024) nunjukkin hal ironis: dari ibu yang udah ikut 4 kali perawatan antenatal, 67,3 persen nggak dapat layanan pascanatal, dan cuma 11,2 persen yang beneran lengkap sampai 4 kali kunjungan pascanatal.

Data juga nunjukkin diskriminasi: perempuan dari Kasta Terjadwal (60,1%), Kelas Terbelakang Lainnya (72,7%), pendapatan di bawah ₹5.000 (100%), pendidikan di bawah kelas 10 (81,5%), dan ibu muda usia 20–25 tahun (70%)—semua lebih sering nggak dapat layanan pascanatal. Alasannya: sistem follow-up buruk, literasi kesehatan rendah, hambatan ekonomi, sampai kurangnya otonomi di kalangan perempuan muda dan terpinggirkan.

Seorang tenaga kesehatan di Faridabad bilang sering kekurangan obat penting, termasuk kalsium. Hal ini bikin ibu baru males datang ke fasilitas kesehatan.

Tambahan lagi: listrik, air, dan jalan jelek bikin perempuan ragu cari perawatan pascanatal. Minimnya fasilitas kayak ruang operasi, rontgen, dan lab juga bikin ibu lebih milih rumah sakit besar ketimbang pusat kesehatan terdekat.

Sampai ada bidan di Faridabad yang cerita, persalinan berisiko tinggi sering dialihin ke rumah sakit lain gara-gara fasilitas kurang lengkap. Akibatnya perawatan jadi telat, dan ibu makin enggan datang ke pusat kesehatan lokal.

Beberapa penerima bantuan Janani Suraksha Yojana juga ngeluh. Katanya, kurangnya air bersih, listrik sering padam, sampai nggak ada pemanas di musim dingin bikin fasilitas kesehatan masyarakat kurang layak buat lahiran atau kontrol pascanatal.

Baca juga:  India dan Perjuangan Menuju Kesetaraan Menstruasi

Menjembatani Kesenjangan Perawatan

Fakta bahwa persalinan di fasilitas medis nggak otomatis bikin ibu dapat layanan pascanatal jelas bahaya. Penting banget cari tahu kenapa perempuan nggak datang ke pemeriksaan—entah karena hambatan pribadi, keluarga, atau fasilitas.

Pemerintah bisa ambil langkah nyata dengan bikin layanan pascanatal lebih ramah: fasilitas lebih lengkap, dukungan tepat waktu, pasangan dilibatkan, dan staf kesehatan lebih perhatian.

Perawatan persalinan yang baik harusnya jadi pintu masuk untuk pascanatal. Kalau ibu merasa diperlakukan dengan respect, kemungkinan besar mereka mau balik buat perawatan lanjutan.

Biar lebih tajam, bisa dipakai indeks kayak MFPM (Kematian Ibu Kehamilan Pertama) dan MSLPM (Kematian Ibu Kehamilan Kedua/Selanjutnya) buat mapping kematian akibat layanan pascanatal yang terlewat. Data ini bisa nunjukkin celah sistemik dan tantangan personal perempuan dari kehamilan pertama ke berikutnya.

Implikasi kebijakannya jelas: perkuat infrastruktur, bikin protokol pelayanan penuh empati, kasih pengingat kunjungan, siapin tenaga medis yang mumpuni, dan desain strategi lokal yang nyaman buat perempuan dari berbagai komunitas.

Bikin peran ibu lebih aman itu bukan cuma soal kesehatan, tapi juga hak asasi manusia. Pengalaman melahirkan yang aman dan bermartabat bisa bikin perempuan percaya sama sistem kesehatan, lebih rajin kontrol pascanatal, dan ubah cara pandang masyarakat soal pentingnya layanan kesehatan.

Diadaptasi dari Bridging the postnatal care gap in India must be a priority yang sudah tayang terlebih dahulu di 360info.org

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Voices of Tomorrow

Teras

Artikel Lainnya

Otoritarianisme Membahayakan Keamanan Jurnalis di Indonesia

Otoritarianisme Membahayakan Keamanan Jurnalis di Indonesia

Romanticizing Mundane Life: Menikmati Hidup yang Biasa Saja

Princess Treatment Hanya untuk Perempuan yang Nurut

Princess Treatment: Hanya untuk Perempuan yang Nurut?

Leave a Comment