Kenalan dengan Finger Princess: Ketika “Nggak Paham Apa-apa” Jadi Persona

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- B’Pers, masih ingat konten TikTok dari seorang kreator perempuan yang mengaku tidak paham politik, tidak mengerti isu apa pun, dan enggan memikirkan hal-hal yang menurutnya terlalu “berat”? Video itu sempat viral dan menuai banyak reaksi. Bukan hanya dari laki-laki, tetapi juga dari sesama perempuan yang merasa tidak terwakili. Pasalnya, dalam video tersebut ia mengklaim mewakili seluruh perempuan Indonesia seolah ketidaktahuan terhadap politik dan pemerintahan adalah pengalaman kolektif perempuan.

Finger Princess Apa Itu?

Nah, tipikal individu semacam ini ternyata ada sebutannya yaitu finger princess—perempuan yang terbiasa tampil tidak tahu, dan tidak mau repot, karena selalu ada orang lain seperti pasangan, teman, atau sistem yang siap mengurus dan mengambil alih. 

Istilah finger princess sendiri berasal dari Korea Selatan, terjemahan langsung dari ping-peu, yang secara harfiah berarti “tidak mau menggerakkan jari” untuk hal-hal sepele. Dalam artikel yang dimuat oleh SELF, fenomena ini disebut sebagai salah satu friendship red flags yang kini makin sering dibicarakan. 

Contohnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Alih-alih menggulir ke atas percakapan grup, mereka akan berulang kali bertanya, “Jam berapa acaranya?” atau “Lokasinya di mana?” Atau meminta dijelaskan cara memanaskan popcorn di microwave, alih-alih membaca instruksi di kemasan. Pola serupa juga terlihat dalam konten viral seorang kreator perempuan yang mengaku tidak mau memahami politik karena dianggap terlalu berat, dan bahkan mengklaim sikap tersebut mewakili perempuan Indonesia.

Dalam konteks ini, ketidaktahuan tidak lagi sekadar soal minat personal, tetapi ditampilkan sebagai kepribadian yang tidak mau ribet, tidak perlu tahu, dan aman jika urusan berpikir diserahkan kepada orang lain. Sama seperti contoh sederhana di ruang pertemanan, sikap enggan mencari tahu ini kemudian dinormalisasi, seolah ketidakterlibatan adalah sesuatu yang wajar bahkan patut dimaklumi ketika dilakukan oleh perempuan.

Christie Ferrari, PsyD, seorang psikolog klinis yang berbasis di Miami, menjelaskan kepada SELF bahwa persoalannya bukan pada satu pertanyaan atau satu sikap tertentu, melainkan pada pola yang terbentuk. “Secara halus, perilaku ini menempatkan satu orang dalam posisi sebagai penyedia emotional labor,” ujarnya. Dalam konteks politik, emotional labor ini sering kali dialihkan kepada pihak lain—baik pasangan, teman, maupun kelompok tertentu—yang dianggap lebih “pantas” untuk berpikir, memahami, dan mengambil sikap.

Oleh karena itu finger princess bukan hanya soal malas sesekali atau tidak tertarik pada isu tertentu. Tetapi juga berubah menjadi relasi yang timpang, di mana satu pihak terus memikul beban kognitif dan emosional, sementara pihak lain menarik diri dari proses berpikir bersama, meskipun akses terhadap informasi terbuka lebar bagi semua.

Baca juga: Potongan Tunjangan DPR, Kosmetik Politik di Tengah Krisis Rakyat

Mengapa Fenomena Ini Kerap Dilekatkan pada Perempuan?

Tak hanya persona individu, finger princess berakar pada konstruksi sosial patriarki yang menempatkan politik, pengambilan keputusan, dan kerja berpikir sebagai wilayah laki-laki. Dalam sejarah dan praktik sosial, perempuan kerap dijauhkan dari ruang-ruang politik dengan dalih bahwa urusan tersebut terlalu berat, rasional, dan menuntut ketegasan—sifat-sifat yang dilekatkan pada maskulinitas. Akibatnya, perempuan tidak hanya dibatasi aksesnya, tetapi juga dibentuk untuk merasa bahwa ketidakterlibatan adalah sesuatu yang wajar.

Pembagian peran ini terus direproduksi hingga hari ini dalam bentuk yang lebih halus. Ketika perempuan menyatakan tidak ingin memahami isu politik atau merasa “tidak paham hal-hal berat”, pernyataan tersebut sering dimaklumi, bahkan dibenarkan, karena selaras dengan ekspektasi gender yang sudah lama ada. 

Patriarki bekerja bukan hanya dengan melarang, tetapi juga dengan menormalisasi jarak perempuan dari proses berpikir dan pengambilan sikap. Oleh karena itu, persona finger princess adalah cerminan dari sistem yang sejak awal membiasakan perempuan untuk menyerahkan kerja intelektual dan tanggung jawab publik kepada laki-laki.

Tanda-Tanda Teman Kamu Termasuk Finger Princess

Pola finger princess biasanya terlihat dari kebiasaan kecil yang berulang. Bukan karena sekali dua kali lupa, tapi karena hampir setiap ada topik baru, respons yang muncul selalu sama. Misalnya, ketika teman lain sedang membahas sesuatu entah rencana, isu, atau obrolan ringan dia langsung menimpali dengan, “Ngomongin apa sih? Kok aku nggak tahu?” atau “Aku nggak ngerti deh, berat banget, jelasin dong.”

Jika perilaku yang sama selalu muncul tanpa usaha untuk mengikuti pembicaraan, membaca konteks, atau mencari tahu lebih dulu, lama-kelamaan beban penjelasan akan jatuh ke orang yang sama. Teman lain akhirnya otomatis menjelaskan ulang, merangkum, atau menyesuaikan pembicaraan agar ia bisa ikut.

Tanda lain bisa dilihat dari jenis pertanyaannya. Bukan pertanyaan yang menunjukkan rasa ingin tahu, tetapi pertanyaan refleks yang muncul setiap kali ada informasi baru. Alih-alih bertanya setelah mencoba memahami, ia langsung memposisikan diri sebagai pihak yang “tidak tahu apa-apa”, seolah ketidaktahuan adalah titik awal yang wajar dan harus selalu diakomodasi.

Baca juga: Simbol Agama dan Politik Tobat Palsu

Bagaimana Menghadapi Finger Princess?

Namun, menghadapi pola seperti ini tidak selalu harus dengan konfrontasi langsung. Cara paling sederhana justru dengan bersikap lebih tenang dan memberi ruang. Misalnya respon dengan “Coba cek lagi di chat deh” atau “lagi ramai dibahas, kamu cek coba di Google”—bisa menjadi isyarat halus agar orang tersebut terbiasa mencari jawabannya sendiri.

Jika relasinya cukup dekat dan suasananya memungkinkan, istilah finger princess juga bisa disebutkan secara ringan, tanpa nada menghakimi. Pendekatan semacam ini memberi pesan bahwa bertanya itu wajar, tetapi berusaha mencari tahu terlebih dahulu juga penting.

Pada akhirnya, finger princess bukan soal malas atau rajin, melainkan tentang bagaimana perempuan dibiasakan menjauh dari kerja berpikir. Bersikap kritis dan mau mencari tahu adalah bagian dari kemandirian dan agensi perempuan. Dari kebiasaan kecil inilah relasi yang lebih setara dan saling menghargai bisa dibangun.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

SIRCLO Dukung Penguatan Peran Perempuan dalam Ekonomi Keluarga Hingga Nasional

Gunakan BBM Ramah Lingkungan Untuk Kesehatan

Seksisme Diskriminasi terhadap Perempuan dan Anak Perempuan

Seksisme: Diskriminasi terhadap Perempuan dan Anak Perempuan

Leave a Comment