Bincangperempuan.com- Akhir-akhir ini, media sosial lagi penuh sama tren foto berbasis kecerdasan buatan (AI). Gampang banget caranya: tinggal upload foto, ketik prompt tertentu, lalu keluar hasil potret ala polaroid, lengkap dengan gaya, outfit, sampai latar yang seolah-olah beneran difoto bareng seseorang. Nah, yang bikin rame, tren ini nggak berhenti di foto bareng teman atau keluarga aja, tapi merambah ke area yang lebih sensitif: ngedit foto bareng orang yang udah meninggal, bahkan sama artis atau idola.
Sebagian orang menggunakannya buat sekadar nostalgia atau mengenang momen. Tapi nggak sedikit juga yang kelewat kreatif—bikin foto seolah lagi jalan bareng idola, berpelukan, bahkan ada yang sampai menciptakan situasi intim dengan sosok yang sebenernya nggak pernah mereka temui. Kalau dilihat sekilas memang seru, tapi ada banyak hal berbahaya yang sering luput disadari.
Etika yang Dilanggar
Yang harus dicatat, artis atau idola yang wajahnya dipakai jelas nggak pernah kasih izin. Rosihan Ari Yuana, dosen Program Studi Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer Universitas Sebelas Maret (UNS), menegaskan bahwa ngambil foto orang lalu diedit sesuai keinginan itu jelas melanggar etika.
“Secara etika jelas enggak boleh, karena itu tetap hak pribadi orang yang difoto,” katanya, dikutip dari Kompas.com (13/9/2025).
Selain masalah moral, praktik ini juga punya konsekuensi hukum. Ada beberapa aturan yang bisa menjerat, antara lain:
- Pasal 27 ayat (3) UU ITE: melarang distribusi informasi elektronik yang bisa dianggap penghinaan atau pencemaran nama baik.
- Pasal 32 ayat (1) UU ITE: melarang siapapun mengubah, merusak, menghilangkan, atau memindahkan informasi elektronik milik orang lain tanpa hak.
- Pasal 65 UU Perlindungan Data Pribadi (UU No. 27/2022): menyebutkan pemrosesan data pribadi tanpa persetujuan bisa kena sanksi pidana. Wajah termasuk data pribadi sensitif.
- UU Hak Cipta (UU No. 28/2014): foto dilindungi sebagai ciptaan, jadi penggunaannya tanpa izin melanggar hak moral maupun hak ekonomi pencipta.
Jadi, meskipun photobooth AI keliatan fun, nyatanya bisa bikin kita kejebak masalah hukum kalau orang yang wajahnya dipakai merasa keberatan.
Baca juga: Watch Out, Di Balik Serunya Roblox, Predator Digital Mengintai Anak
Idola Bukan Objek Fantasi
Pelanggaran privasi udah bahaya, tapi ada yang lebih gawat lagi. Banyak orang pakai prompt “liar” buat bikin foto intim dengan idola—kayak lagi ciuman atau berpelukan mesra. Ini artinya idola diperlakukan cuma sebagai objek fantasi seksual. Padahal, jadi fans bukan berarti boleh bebas nerobos batas pribadi idolanya.
Fenomena ini erat kaitannya sama parasocial relationship—hubungan satu arah antara penggemar dengan figur publik. Dalam kondisi sehat, hubungan ini bisa kasih motivasi, rasa dekat, bahkan inspirasi. Tapi dengan adanya teknologi yang bisa bikin idola muncul di ranjang virtual kita, batas antara kekaguman dan obsesi jadi kabur.
Beberapa figur publik bahkan udah angkat bicara. Pemain Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner, gerah ketika foto mereka beredar hasil editan AI. Mereka dengan tegas minta publik buat lebih sopan. Hal yang sama juga dialami Baskara Putra alias Hindia, yang terang-terangan mengecam fans karena wajahnya dipakai di konten AI. Dari sini keliatan jelas, bahkan untuk publik figur sekalipun, manipulasi AI tanpa izin tetep dianggap pelecehan.
Rawan Pencurian Identitas
Selain melanggar etika, tren ini juga punya risiko keamanan digital. Begitu foto kita diunggah, bisa aja tersimpan di database tanpa kita tahu. Foto-foto itu bisa dimanfaatkan buat ngelatih teknologi deepfake—yang sekarang sering dipakai buat misinformasi atau penipuan online.
Risiko nggak berhenti sampai di situ. Foto pribadi bisa dipakai buat pemalsuan identitas, bikin akun palsu, bahkan dipasang ke konten manipulatif yang bisa menjatuhkan reputasi seseorang. Dengan kata lain, tren yang keliatan iseng ini bisa jadi pintu masuk ke konsekuensi serius.
Baca juga: Sleep Call: Antara Rasa Sepi atau Bentuk Intimasi Digital?
Gunakan AI Secara Bijak dan Lindungi Datamu
AI punya banyak potensi keren, tapi tetep butuh batas sehat. Jangan sampai dipakai buat halu yang melanggar privasi orang lain, apalagi sampai bikin fantasi nggak senonoh. Lebih baik gunakan AI buat hal-hal yang membangun, bukan yang merugikan.
Selain itu, penting banget buat bijak ngelola data pribadi. Jangan asal upload foto ke platform AI tanpa paham syarat dan ketentuannya. Pastikan juga perangkat yang dipakai aman, pilih platform yang kredibel, dan pikirkan efek jangka panjang sebelum nebar informasi sensitif.
Dengan sikap kritis, kita bisa nikmatin teknologi AI tanpa kebablasan, sekaligus melindungi diri dari risiko pencurian data dan penyalahgunaan identitas.
Referensi:
- Kompas.com. (2025, 13 September). Ramai warganet ikuti tren foto polaroid bareng artis pakai AI, bagaimana etisnya?Diakses dari: https://amp.kompas.com/tren/read/2025/09/13/083000065/ramai-warganet-ikuti-tren-foto-polaroid-bareng-artis-pakai-ai-bagaimana
- MSN Indonesia. (2025, 12 September). Gerah fotonya diedit pakai AI, pemain Timnas Indonesia buka suara: Rizky Ridho, tolong lebih sopan. Diakses dari: https://www.msn.com/id-id/berita/other/gerah-fotonya-diedit-pakai-ai-pemain-timnas-indonesia-buka-suara-rizky-ridho-tolong-lebih-sopan/ar-AA1MvNwm
