Apa itu Baddie? Bukan Sekadar Gaya, Tapi Cara Kita Mencintai Diri

Ais Fahira

News

Apa itu Baddie Bukan Sekadar Gaya, Tapi Cara Kita Mencintai Diri

Bincangperempuan.com- B’Pers pernah baca atau dengar kata baddie? Misalnya saat scrolling TikTok lalu menemukan komentar, “yasss, baddie!” atau “that’s my baddie.” Kata ini memang sedang populer digunakan di media sosial seperti TikTok, Instagram, hingga X (Twitter).

Menariknya, istilah ini tidak sekadar slang biasa. Melansir dari Merriam Webster, baddie berasal dari bahasa gaul Afro-American Vernacular English (AAVE) yang mulai populer secara daring sejak akhir 2010-an. Dalam konteks ini, baddie punya makna mirip dengan istilah lama seperti bad bitch—sebuah ekspresi yang mereklamasi kata bad (buruk) menjadi sesuatu yang positif seperti cantik, percaya diri, dan berkuasa atas dirinya sendiri. 

Di balik kata baddie ada nilai politik, karena perempuan menggunakan istilah ini untuk menolak pandangan yang merendahkan mereka. Lalu, kenapa istilah ini kini banyak dipakai perempuan, dan bagaimana kita bisa menjadikannya ruang solidaritas alih-alih standar baru yang justru menjebak?

Dari Hashtag ke Pop Culture Global

Estetika baddie mulai dipopulerkan oleh perempuan kulit hitam di media sosial, terutama di Instagram dan YouTube sekitar pertengahan 2010-an. Makeup bold, alis tegas, bulu mata lentik, hingga lipstik gemerlap adalah ciri khasnya. Dari sana, tren ini menyebar cepat melalui hashtag seperti #Baddie dan #InstaBaddie.

Tak lama kemudian, estetika ini masuk ke ranah pop culture global. Influencer, selebriti, hingga brand fashion dan kosmetik besar ikut mengadopsi gaya baddie. Rihanna, Kylie Jenner, hingga Nicki Minaj menjadi ikon yang sering disebut-sebut merepresentasikan “baddie vibes“. 

Ketika Baddie Dikomodifikasi

Semenjak tren baddie look digemari, kata ini ini makin banyak digunakan. Di satu sisi, jadi baddie bisa terasa empowering karena menolak standar cantik harus putih dan mengenakan makeup natural. Seseorang bisa tampil seksi dengan versi diri sendiri, menunjukkan kepercayaan diri, dan menolak jadi standar perempuan manis. Baddie adalah simbol perempuan yang tidak takut dilihat, tapi justru memegang kendali atas cara ia ditampilkan.

Tapi di sisi lain, ada masalah terjadi jika baddie dijadikan standar baru, kita bisa jatuh ke tuntutan agar terus tampil gemerlap, atau punya bentuk wajah tertentu, dan belanja produk biar sesuai tren. Alih-alih bebas, kita bisa terjebak beban kecantikan alternatif.

Baca juga: Hari Pencegahan Bunuh Diri: Mengapa Empati Saja Tidak Cukup?

Objektifikasi dan Male Gaze

Artikel Document Women juga menyoroti risiko baddie dilihat dari kacamata laki-laki (male gaze). Istilah ini akhirnya ditempatkan dalam bingkai seksualitas yang berpusat pada selera laki-laki, ketika perempuan yang baddie bukan sekadar percaya diri, tapi harus seksi sesuai selera laki-laki heteroseksual. Padahal, semangat awalnya justru untuk merebut kembali kendali atas tubuh dan penampilan perempuan.

Dengan kata lain, ketika istilah ini jika masih dikuasai oleh pandangan laki-laki, baddie hanya akan dinilai hanya dari daya tarik visualnya. Alih-alih menjadi ruang perlawanan, ia bisa berbalik menjadi bentuk baru objektifikasi.

Hierarki Kelas dan Warna Kulit

Selain itu, ada hierarki sosial yang terbentuk dari istilah baddie. Di Nigeria, misalnya, baddie sering dikaitkan dengan akses ke barang-barang mewah, gaya hidup high class, dan penampilan tertentu. Bahkan perempuan berkulit lebih cerah dianggap lebih baddie dibandingkan perempuan berkulit gelap.

Fenomena ini memperkuat praktik diskriminasi berbasis kelas dan colourism. Baddie yang mestinya menjadi identitas inklusif berubah jadi label eksklusif—sebuah status sosial yang tidak semua orang bisa capai. Jadi, yang awalnya dimaksudkan untuk memberdayakan, malah bisa memperlebar jurang ketidaksetaraan.

Bagaimana Seharusnya Menjadi Baddie

Jika kita mengetik di Google “how to be a baddie”, biasanya yang muncul hanyalah sederet tutorial makeup, atau tips fashion. Seolah-olah jadi baddie itu hanya perkara penampilan. Padahal, inti dari menjadi seorang baddie bukan sekadar soal tampilan luar, melainkan tentang keaslian diri (being authentic in your own skin).

Menjadi baddie artinya merawat diri dengan cara yang membuatmu nyaman, percaya diri, dan merasa berdaya. Tampilan luar bisa jadi salah satu medianya, tetapi esensinya jauh lebih dalam. Document Women memberikan beberapa cara memaknai baddie yang sebenarnya:

Perkuat gaya, tanpa harus meninggalkan jati diri

Menjadi baddie bukan berarti membuang pakaian favorit yang sudah nyaman dipakai. Justru, itu tentang bagaimana kita lebih sadar dan intensional dalam berpenampilan. Bisa dengan menambahkan aksesori, mencoba riasan baru, atau memilih warna-warna cerah yang membuat suasana hati ikut terangkat. Penampilan memang bukan segalanya, tetapi bagaimana kita tampil sering memengaruhi kepercayaan diri kita.

Rawat diri seperlunya

Kamu tidak harus ikut-ikutan membeli semua produk yang dipromosikan influencer. Cukup pembersih wajah, pelembap, dan tabir surya, itu pun sudah langkah besar untuk kesehatan kulit. Merawat diri seharusnya tidak membuat stres atau menguras kantong, tapi sesuaikan dengan kebutuhan dan rasa nyaman.

Bangun kepercayaan diri

Kalau mau jadi baddie, kuncinya ada di percaya diri dengan apa yang kita punya. Tidak masalah jika kadang masih susah—semua orang juga punya perjuangannya sendiri. Yang penting, kita tetap berani jalan meski belum selalu yakin.

Lakukan hal spontan

Hidup terlalu teratur, kadang bisa membuat perasaan jadi hambar. Sesekali coba keluar dari rutinitas—misalnya jalan sendiri, ngobrol sama orang baru, atau ganti warna rambut. Hal-hal kecil yang spontan bisa bikin kamu lebih bahagia karena jadi cara mengekspresikan diri tanpa harus peduli omongan orang.

Berani bilang “tidak”

Sering kali perempuan diajarkan untuk mengalah demi menjaga suasana tetap damai. Namun, menjadi baddie berarti tahu kapan harus menarik batas. “Tidak” adalah kata ajaib yang bisa melindungi dirimu dari perlakuan semena-mena. Menghargai diri sendiri lewat batasan akan membuat orang lain pun lebih menghargaimu.

Terus belajar

Baddie bukan hanya soal wajah cantik atau outfit keren, tetapi juga tentang isi kepala. Membaca buku, artikel, fiksi, atau bahkan menonton konten edukatif di YouTube bisa memperkaya perspektif. Pengetahuan adalah salah satu bentuk daya tarik yang sering diremehkan, padahal sangat penting untuk membangun kepercayaan diri.

Rayakan keunikanmu

Menjadi baddie adalah hidup sesuai versi diri sendiri. Tidak perlu mengikuti standar orang lain tentang bagaimana perempuan baik seharusnya tampil atau bersikap. Pada akhirnya, baddie sejati adalah mereka yang berani menjalani hidup dengan cara sendiri.

Baca juga: Fanservice Itu Apa Sih? Dari Anime Sampai Jebakan Male Gaze

Be Your Own Self-made Baddie!

Pada akhirnya baddie bukan sekadar gaya hidup atau estetika yang dipopulerkan media sosial.Tetapi juga sikap untuk autentik, berdaya, berani menolak, dan tidak takut mengekspresikan diri. Kamu tidak perlu validasi dari siapa pun untuk jadi self-made baddie. Menjadi self-made baddie bukanlah tentang menyesuaikan diri dengan standar yang dibuat orang lain, melainkan tentang menciptakan standarmu sendiri. Tentang berani menolak hal-hal yang merugikan, mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi, dan merasa cukup dengan diri sendiri.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Ketimpangan Ekonomi dan Gender Perempuan Petani dan Nelayan di Bengkulu

Dipidanakan Hingga Sulit Mengakses Sumber Daya

Pelaksanaan UU TPKS di Perguruan Tinggi Perlu Dukungan Banyak Pihak

Pelaksanaan UU TPKS di Perguruan Tinggi Perlu Dukungan Banyak Pihak

Antara Jilbab dan Asap Stigma terhadap Perempuan Berjilbab yang Merokok

Antara Jilbab dan Asap: Stigma terhadap Perempuan Berjilbab yang Merokok

Leave a Comment