Bincangperempuan.com– Belakangan, perdebatan soal jam masuk sekolah kembali muncul ke permukaan. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mewacanakan agar anak-anak bangun dan berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya yaitu pukul 6 pagi. Namun, karena menimbulkan kontroversi akhirnya jam belajar di Jabar dimulai pukul 06.30 WIB.
Ini bukan pertama kali pertama tokoh publik menghidupkan ide “bangun pagi biar produktif.” Lantas kenapa sih, kita masih percaya bahwa bangun semakin awal, semakin baik?
Padahal banyak ahli kesehatan dan pendidik yang justru menilai, jam masuk sekolah yang terlalu pagi bisa berdampak negatif, terutama bagi anak-anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan. Apalagi bagi keluarga kelas pekerja khususnya perempuan yang harus bangun jauh lebih awal untuk menyiapkan segala kebutuhan anaknya sebelum matahari terbit. Jadi, apakah pagi-pagi buta memang membuat kita lebih produktif? Atau kita cuma korban mitos produktivitas ala kolonial dan kapitalisme?
Baca juga: Membongkar Aib, Melawan Stigma, Menyelamatkan Anak; Menelusuri Kasus Inses di Bengkulu
Masalah Produktivitas atau Sekadar Budaya Disiplin?
Di Indonesia, jam sekolah umumnya dimulai pukul 7 pagi. Beberapa bahkan lebih awal. Tapi, apakah sistem ini membuat kita lebih produktif? Statistik pendidikan masih stagnan, kesehatan mental pelajar memburuk, dan angka kelelahan siswa meningkat.
Negara-negara maju justru sedang berbenah. Banyak dari mereka mulai menyadari bahwa early start time bisa merusak ritme biologis anak-anak, terutama remaja. Di Amerika Serikat, misalnya, American Academy of Pediatrics dan CDC merekomendasikan agar sekolah menengah tidak mulai sebelum pukul 8.30 pagi. Karena secara biologis, ritme sirkadian remaja membuat mereka sulit tidur awal dan lebih membutuhkan waktu tidur panjang dibanding anak-anak maupun orang dewasa.
Data dan Fakta: Tidur Lebih, Nilai Lebih Baik
Sebuah studi di Seattle menunjukkan bahwa mengundur waktu mulai sekolah dari pukul 7.50 menjadi 8.45 memberikan tambahan rata-rata 34 menit waktu tidur bagi siswa, meningkatkan nilai pelajaran biologi sebesar 4–5%, dan mengurangi keterlambatan serta ketidakhadiran.
Studi lain oleh IZA World of Labor menyatakan bahwa mundurnya jam sekolah bahkan bisa setara dengan peningkatan kinerja setara satu guru berkualitas tinggi. Dengan kata lain, membiarkan anak cukup tidur bisa lebih efektif daripada sekadar menambah jam pelajaran atau menuntut kerja keras tanpa henti.
Negara Maju Mulai Berubah
Connecticut, salah satu negara bagian di AS, sedang mempertimbangkan peraturan agar jam mulai sekolah tidak boleh lebih awal dari 8.30 pagi. Bahkan ada wacana tentang sekolah empat hari seminggu demi efisiensi dan kesejahteraan murid.
Di Denmark, beberapa sekolah juga melakukan uji coba waktu mulai lebih siang untuk meningkatkan kesehatan mental dan kemampuan fokus siswa. Negara-negara ini menyadari bahwa kesehatan mental bukan sekadar “urusan pribadi,” tapi investasi pendidikan jangka panjang.
Baca juga: Benarkah Kalau Miskin Dilarang Punya Anak?
Lalu, Kenapa Kita Masih Kekeh Memulai Kegiatan dari Subuh?
Jawabannya bisa didekati dari tiga sisi:
- Warisan agraris dan kolonial – Di masa lalu, bangun pagi dipraktikkan petani karena menghindari panas tropis. Sistem pendidikan kolonial pun mengadopsi jadwal itu, dan belum banyak berubah sejak saat itu.
- Budaya produktivitas semu – Kita sering mengaitkan bangun pagi dengan “semangat” dan “disiplin”, meskipun tanpa hasil konkret. Yang penting terlihat rajin.
- Kurangnya kebijakan berbasis riset – Alih-alih merujuk ke temuan ilmiah atau psikologi perkembangan, kebijakan kita sering berdasar insting, asumsi moral, atau narasi “kalau zaman saya dulu bisa, kenapa sekarang ngeluh?” Padahal banyak berbagai temuan ilmiah menunjukkan bahwa remaja punya pola tidur alami yang berbeda dari anak-anak dan orang dewasa—mereka butuh tidur lebih lama, dan otaknya bekerja optimal justru di jam yang lebih siang. Tapi temuan ini jarang dijadikan dasar kebijakan.
Korban Terbesar: Perempuan dan Remaja
Bangun pukul 4 pagi untuk menyiapkan anak sekolah bukan hal langka bagi banyak ibu. Ketika anak-anak dipaksa bangun dini hari, yang terdampak bukan hanya mereka—tapi juga perempuan yang mengurus kebutuhan rumah tangga tanpa jeda. Alih-alih meringankan beban rumah tangga, kebijakan masuk pagi justru memperkuat beban gender.
Remaja juga jadi kelompok yang sangat dirugikan. Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur pada remaja berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, dan performa belajar yang rendah.
Saatnya Kita Ganti Narasi
Bangun pagi bukan jaminan sukses. Kalau kualitas tidur buruk, otak belum optimal, dan tubuh masih kelelahan, maka yang terjadi hanyalah simulasi produktivitas. Anak-anak kita tidak butuh lebih banyak disiplin—mereka butuh lebih banyak tidur, istirahat yang layak, dan sistem pendidikan yang menghargai perkembangan biologis serta kesehatan mental mereka.
Kalau negara maju bisa menyesuaikan waktu sekolah demi kesehatan dan efektivitas, kenapa kita masih percaya bahwa makin pagi makin hebat?
Referensi:
- Lenne, S. (2018, December 12). Later school start time is better for Seattle teens, study shows. University of Washington News. https://www.washington.edu/news/2018/12/12/high-school-start-times-study/
- Groen, J. A., & Pabilonia, S. W. (2019). Educational effects of school start times. IZA World of Labor. https://wol.iza.org/articles/educational-effects-of-school-start-times/long
- Euronews Health. (2024, July 25). In Denmark, schools are trialling later start times to give teens a sleep boost. Euronews. https://www.euronews.com/health/2024/07/25/in-denmark-schools-are-trialling-later-start-times-to-give-teens-a-sleep-boost
- Stuart, C. (2024, March 4). Connecticut could consider later school start times or even a 4-day school week. CT Insider. https://www.ctinsider.com/news/education/article/ct-school-start-times-change-bill-proposal-20046664.php
