Berita Terkini

Pengelolaan MBG, Kenapa Kita Tidak Belajar dari Jepang dan Finlandia?

Ais Fahira

News

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah berjalan lebih dari setahun. Jutaan porsi dibagikan, tetapi kritik tak berhenti: mutu menu dipertanyakan, harga sembako terdampak, hingga distribusi energi ikut tersendat. Jika tujuan MBG adalah investasi gizi jangka panjang, maka ukurannya tak bisa sekadar jumlah porsi. Jepang dengan kyūshoku-nya dan Finlandia dengan sistem makan sekolah berbasis kurikulum menunjukkan bahwa makan siang sekolah bisa dirancang sebagai ekosistem—terintegrasi dengan pendidikan, stabilitas pasar, dan pengawasan mutu. Apa yang bisa Indonesia pelajari agar MBG tak berhenti sebagai proyek distribusi, melainkan menjadi fondasi generasi sehat?

Selengkapnya

Pembacokan di Kampus Riau, Ketika Kekerasan Dialihkan Ke Isu Moral

Ais Fahira

News

Kasus pembacokan mahasiswi di UIN Suska Riau sempat mengguncang publik. Namun, alih-alih fokus pada tindakan kekerasan yang mengancam nyawa, percakapan justru bergeser pada moralitas korban. Jejak digital diungkit, status hubungan diperdebatkan, dan tragedi dipersempit menjadi “drama asmara”. Fenomena ini bukan kasus tunggal—pola serupa muncul dalam berbagai kasus femisida, ketika pelanggaran etika disandingkan dengan tindak pidana berat. Mengapa kekerasan dalam relasi kerap dinormalisasi atas nama sakit hati dan harga diri?

Selengkapnya

Negosiasi Tubuh dan Cinta dalam Venus: Kronik Cinta Perempuan Urban

Ais Fahira

News

Di balik gemerlap apartemen dan relasi yang tampak setara, tubuh perempuan tetap menjadi ruang negosiasi. Dalam Venus: Kronik Cinta Perempuan Urban, Mayesharieni menghadirkan Kayas dan tiga perempuan lain yang berhadapan dengan cinta, ekonomi, dan relasi kuasa di kota besar. Dari hubungan transaksional dengan seorang lelaki mapan hingga kehadiran Baruna yang lebih emosional, novel ini mengajak pembaca menyelami kegamangan, otonomi, dan pilihan yang tak selalu menghadirkan ketenangan batin. Berani mengangkat isu tubuh dan objektifikasi, namun tetap menyisakan ruang kritik pada pendalaman karakter dan cara bertutur, Venus membuka percakapan penting tentang bagaimana perempuan urban merundingkan cinta—dan dirinya sendiri.

Selengkapnya

Usulan Zakat untuk MBG Ditolak: Bukti Pejabat Negara Tak Satu Suara

Ais Fahira

News

Usulan penggunaan dana zakat untuk membiayai program Makan Bergizi Gratis (MBG) memantik polemik tajam. Ketika Ketua DPD Sultan B. Najamuddin melempar gagasan tersebut, respons penolakan datang dari BAZNAS hingga pejabat pemerintah pusat. Di satu sisi, niatnya disebut untuk memperkuat pembiayaan program gizi nasional. Di sisi lain, zakat dinilai tak bisa diperlakukan sebagai dana publik yang fleksibel. Perdebatan ini tak hanya soal halal atau tidak, tetapi juga soal konsistensi kebijakan, tata kelola anggaran, dan soliditas komunikasi antarpejabat negara.

Selengkapnya

Patriarki yang Diam-Diam Hidup dalam Pikiran Perempuan

Ais Fahira

News

Mengapa perempuan kerap menjadi hakim paling keras bagi sesamanya? Dari komentar soal ibu yang “terlalu santai” hingga korban kekerasan seksual yang justru dipertanyakan, patriarki ternyata tidak selalu datang dari luar. Ia bisa hidup diam-diam dalam pikiran perempuan sendiri. Mengurai konsep Queen Bee Syndrome, “power dead-even rule”, hingga internalisasi nilai patriarki, tulisan ini mengajak kita menengok ulang bias yang terasa normal—padahal merugikan.

Selengkapnya

Pink Shirt Day dan Stereotip yang Melanggengkan Perundungan

Ais Fahira

News

Bisakah warna memicu perundungan? Pink Shirt Day lahir dari kasus seorang siswa di Kanada yang dibully hanya karena mengenakan baju pink. Dari aksi solidaritas sederhana, gerakan ini kini diperingati di lebih dari 180 negara sebagai simbol anti-bullying. Namun di balik kampanye tersebut, ada persoalan yang lebih dalam: stereotip gender yang kaku masih melanggengkan perundungan, termasuk di sekolah-sekolah Indonesia. Data JPPI 2025 menunjukkan lonjakan kasus kekerasan di satuan pendidikan, dengan bullying sebagai salah satu bentuk terbanyak.

Selengkapnya

Tepuk Tangan dan Sunyi Kritik di Era Helmi Hasan

Betty Herlina

Opini

Setahun pertama kepemimpinan Helmi Hasan diwarnai krisis BBM, polemik pajak, hingga gelombang demonstrasi. Namun laporan media intelligence justru mencatat 83 persen sentimen positif dan jutaan interaksi digital. Angka angka itu tampak impresif—bahkan spektakuler untuk ukuran Bengkulu. Tetapi benarkah dominasi pujian menandakan demokrasi yang sehat? Ataukah ia sekadar menunjukkan narasi yang terkelola rapi, sementara kritik berjalan lebih sunyi?

Selengkapnya