Pengelolaan MBG, Kenapa Kita Tidak Belajar dari Jepang dan Finlandia?
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah berjalan lebih dari setahun. Jutaan porsi dibagikan, tetapi kritik tak berhenti: mutu menu dipertanyakan, harga sembako terdampak, hingga distribusi energi ikut tersendat. Jika tujuan MBG adalah investasi gizi jangka panjang, maka ukurannya tak bisa sekadar jumlah porsi. Jepang dengan kyūshoku-nya dan Finlandia dengan sistem makan sekolah berbasis kurikulum menunjukkan bahwa makan siang sekolah bisa dirancang sebagai ekosistem—terintegrasi dengan pendidikan, stabilitas pasar, dan pengawasan mutu. Apa yang bisa Indonesia pelajari agar MBG tak berhenti sebagai proyek distribusi, melainkan menjadi fondasi generasi sehat?








