Pemeriksaan Haid: Pendidikan, Disiplin, atau Kekerasan?
Pemeriksaan haid di pesantren sering disebut pendidikan disiplin. Tapi bagaimana jika praktik itu justru melukai tubuh dan martabat santriwati?
Pemeriksaan haid di pesantren sering disebut pendidikan disiplin. Tapi bagaimana jika praktik itu justru melukai tubuh dan martabat santriwati?
Sunat perempuan sudah dilarang lewat PP No. 28 Tahun 2024. Tapi data menunjukkan praktik ini masih masif dan legitimasi budaya–agama tetap kuat. Di mana kebijakan tersendat, dan siapa yang bertanggung jawab memastikan tubuh anak perempuan benar-benar dilindungi?
Perempuan gamer masih dicap “cewek beban”, meski jumlah mereka hampir setara dengan laki-laki. Dari pelecehan verbal hingga maskulinitas toksik, stigma ini terus direproduksi oleh budaya game kompetitif. Mengapa dunia game justru jadi ruang eksklusif yang keras bagi perempuan?
Viral kreator perempuan yang mengaku “nggak paham politik” ternyata punya nama: finger princess. Ketika ketidaktahuan dijadikan persona, siapa yang sebenarnya diuntungkan?
Pernah sadar celana dalammu cepat pudar atau berlubang di bagian tengah? Bukan karena kamu ceroboh—bisa jadi itu tanda vagina sedang bekerja melindungi tubuh. Ini penjelasan ilmiahnya.
Kerja fleksibel kini jadi andalan jutaan orang di Indonesia. Tapi di balik kebebasan waktu, gig worker justru menghadapi jam kerja panjang, upah rendah, dan minim perlindungan sosial. Siapa yang sebenarnya diuntungkan?
Korban kekerasan seksual diminta menahan luka demi visum, tapi negara justru mundur dari tanggung jawab. Saat visum tak lagi gratis, keadilan berubah jadi barang mewah tergantung kode pos dan isi dompet.
Alih-alih memperkuat perlindungan, aturan baru tentang budaya sekolah aman dan nyaman justru dikhawatirkan mengaburkan kekerasan di lingkungan pendidikan. Forum Pengada Layanan (FPL) menilai kebijakan ini berisiko melemahkan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di sekolah, serta menggeser tanggung jawab negara dari perlindungan korban ke sekadar pengelolaan suasana belajar.
Reaksi penolakan global yang semakin meluas terhadap kesetaraan gender mengancam hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi perempuan. Para pemimpin feminis memperingatkan bahwa berkurangnya dukungan internasional dan meningkatnya arus konservatisme mengancam kemajuan yang telah dicapai selama puluhan tahun di bidang kesehatan dan hak asasi manusia.